Monday, 11 October 2010

chapter 1

matahari mulai memancarkan cahaya terangnya pagi ini. Setengah tubuhku kini telah tersengat oleh sinar panasnya. Aku tidak tahu seberapa lama aku merebahkan tubuhku diatas tumpukan beberapa potongan karton dan kertas Koran yang menjadi alasku untuk tidur pada malam hari itu.

Yaa, aku memang tidak mengenal tempat ini dan sebenarnya tempat ini pun tidak layak untuk menjadi tempat singgah orang orang yang ingin beristirahat. Aku tahu benar mengapa aku bisa sampai di tempat ini.

Seorang pria berpostur tinggi dengan posisi berjalan membungkuk menghampiriku. Aku hanya menatapnya kosong sambil merapihkan rambutku yang berantakan.

“ayo nak, pindah! Saya mau buka toko.” ucap pemilik toko itu sambil membuka rolling doornya.

“oh ya pak. maaf” Aku langsung bergegas bangun dan beranjak pergi dari tempat itu sambil menunduk.

Ya memang semalam aku tidur di depan emperan sebuah toko. Kamu tahu kenapa? Aku baru saja kabur dari rumahku karena pertengkaran hebat antara aku dan ayah tiriku. Aku ingin menangis bila ingat kejadian semalam, ia menamparku memarahiku dengan kata kata binatang yang tidak selayaknya dia ucapkan kepada anaknya, ya walaupun dia bukan ayah kandungku dan jujur aku belum bisa menganggap dia sebagai sosok ayah baru pengganti alm. ayahku. Sekitar 4 tahun yang lalu ibuku mengalami depresi yang cukup berat sebab entah mengapa ibuku di tuduh oleh sahabat karibnya sendiri di kantor, perempuan itu mengatakan bahwa ibuku mempunyai hubungan khusus dengan pemilik perusahaan tempat ibuku bekerja. Beritanya pun meluas sampai terdengar pula kabar bahwa ibuku rela memberikan tubuhnya agar ia bisa naik pangkat atau apalah. Berita ini pun sampai juga di lingkungan tempat kami tinggal. Aku juga tahu kabar itu dari seorang tetangga yang tidak sengaja terdengar olehku percakapannya dengan para ibu ibu komplek. Hatiku tersayat. Apa iya ibuku seperti yang mereka ceritakan. Aku tahu dan aku kenal ibuku. Tidak mungkin!! Dan memang benar ibuku pernah bercerita kepada adiknya atau yang aku sebut tante tentang semua ucapan orang orang mengenai dirinya yang sama sekali tidak benar. Tapi malang memang nasib ibuku. Mungkin hanya beberapa orang saja yang percaya termasuk aku, ayah tiriku, dan keluarga. kekejaman diskriminasi orang orang terhadapnya membuat ibuku tidak dapat lagi menahan beban pikirannya. Setelah ibuku dirawat di sebuah rumah sakit jiwa. Yaa, aku tetap tinggal dengan ayah tiriku. Walaupun aku sedikit membencinya tapi iya masih mau merawatku yang sekarang genap berusia 18 tahun. Tapi akhir akhir ini sifatnya kolot dan tanpa sebab sering memarahiku yang notabenenya anak tunggal dirumah itu. Dan sekarang aku mendadak hidup dijalan. Disinilah kisah itu akan dimulai

No comments:

Post a Comment