Monday, 11 October 2010

chapter 2

Disebuah kursi yang bersandar di dekat pohon yang rindang, aku merebahkan punggungku sambil sesekali menghirup udara segar. Sekarang sudah jam berapa yah? Ujarku dalam hati. Perutku pun perih karena lapar, aku mulai merogoh saku celana jeansku. Berharap ada uang yang terselip disaku itu. Nihil. Sekarang aku harus bagaimana. Aku lapar. Aku haus. Aku butuh tempat istirahat yang tetap. Bodoh memang, aku bingung sambil menutup mataku dengan kedua telapak tangan. Tiba-tiba seorang perempuan yang usianya paruh baya duduk disampingku. Tubuhnya wangi dan ia mengenakan dress berwarna merah hati sambil menepuk bahuku pelan. Aku pun tersadar.

“kamu kenapa? Apa Ada yang sedang dipikirkan” ucapnya lembut.

“oh nggak apa apa. Kalau boleh tahu ibu siapa yah?”. tanyaku sambil mengernyitkan alis menatapnya tajam.

“kenalkan saya ratih.” Sambil menyodorkan tangan kanannya ke arahku.

Aku pun bergegas mengulurkan tangan kananku dan berjabat dengannya.

“saya bella” ucapku seadanya.

Perbincangan pun dimulai

“saya lihat tadi dari arah sana kamu seperti orang kebingungan.” tanyanya sambil menunjuk ke arah luar taman.

Aku hanya menunduk memalingkan mukaku kearah lain. Apa iya aku harus memberitahu orang yang baru 5 detik berkenalan denganku dengan kondisiku yang kabur dari rumah.

Suasana jadi hening sejenak. Matahari pun sudah memancarkan panasnya menyeluruh. Aku pun mulai merasakan panasnya dan sedikit menelan ludah karena kehausan.

Tiba tiba ratih melontarkan ajakan mendadaknya kepadaku.

“aku tidak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi. Tapi sekiranya kamu bersedia untuk sementara tinggal di rumah saya. Kamu perempuan, tidak pantas sendirian dijalan seperti ini. Tapi kembali ke kamunya sendiri. Saya hanya menawarkan.” Ujar ratih senyum sambil menatapku penuh arti.

Oh tidak, sepertinya tidak ada jalan lain. Pilihanku hanya kembali kerumah bersama ayah tiriku atau tinggal bersama ratih yang baru saja ku kenal.

Setelah berfikir cukup lama Akhirnya aku memutuskan untuk ikut tinggal bersamanya.

“terima kasih bu atas tawarannya. ”jawabku sedikit malu.

Kami pun bangun dari tempat duduk berjalan kearah luar taman. Kulihat dari kejauhan disana telah menunggu seorang supir dengan mobil bmw hitam yang setia menunggu majikannya. Setelah sampai di mobil, pintu dibuka oleh sang supir, dan tanpa ragu ragu aku masuk dan duduk bersebelahan dengan ratih. Mobil pun siap melaju.

No comments:

Post a Comment