Oh ya semenjak amel sibuk pacaran dengan bagas. Aku mungkin sudah dilupakannya. Kami sekarang jarang bertemu. Berbagi cerita apa lagi. Makanya ahir akhir ini aku sering mampir ke kamar indra supaya tidak jenuh sendirian di lantai atas.
Aku mendatangi kamar amel. Pintunya tidak terkunci, aku coba masuk perlahan. Ku lihat tubuh amel sudah terbaring pulas di atas kasur. Aku coba menarik selimut untuk menyelimuti tubuh amel dan menutup pintunya. Malam ini sepertinya akan hujan. Tapi aku berniat untuk mencari makan di luar. Aku pun bergegas menuruni anak tangga perlahan dan membuka pintu pagar kost-an. Beberapa langkah dari pagar. Aku melihat bagas yang mungkin sudah berdiri lama di tepi jalan itu. Aku pun membuang muka. Acuh padanya. Dia mengikuti langkahku dan menarik tanganku. Aku ingin meneriakinya maling tapi aku tidak cukup tega untuk itu.
“bell… gue sayang sama lo.”
Aku tersentak kaget. Aku langsung menamparnya.
“kamu bodoh. Semudah itu kamu bilang sayang? Kamu pikir amel apa? Hah? Boneka yang sesuka hati kamu mainin?” aku memarahinya.
Aku berusaha kembali ke kost-an dan sepertinya hujan mulai turun sedikit demi sedikit. Bagas pun bersikukuh mengikuti langkahku sampai ke halaman.
“oke mau kamu apa sekarang?” tanyaku kesal sambil menatap matanya tajam.
“gue mau lo bell.”
“lo tahu gimana perasaan gue yang terpaksa pacaran sama amel Cuma karena gue pengen tau kabarnya lo. Apa aja yang dilakuin lo selama di kost-an. Buat lo jealous mungkin atau apalah. Lo ngertiin gue dong bel.”
Aku terdiam di tempat dengan posisi mematung. Hujan pun mulai turun deras. Bajuku kini basah semua sama halnya seperti bagas.
Aku menangis sambil menatap matanya. Orang yang aku benci ternyata adalah orang yang aku cintai. Aku tidak munafik untuk mengakui kalau aku juga memiliki perasaan terhadap bagas. Cukup lama kami berdua berdiri mematung ditengah derasnya hujan. Bagas menghampiriku. Memelukku erat. Dan mengecup bibirku. Aku termenung tanpa bisa berkutik. Aku kedinginan. Aku melepaskan pelukan bagas dan berusaha meninggalkannya. Saat aku membalikkan posisi tubuhku. Aku melihat amel sedang berdiri di ujung tembok sambil memegang payung. Aku melihat ia menangis. Aku mendorong badan bagas dan berusaha menghampiri amel. Namun amel dengan cepat berlari menuju kamarnya. Aku sekarang tidak memperdulikan bagas. Aku berlari kearah kamar amel. Dan mengetuk pintunya berulang kali. Namun hanya suara tangis yang kudengar dari dalam.
“Maafin aku Mel…” ucapku lirih.
No comments:
Post a Comment