Aku dan indra sampai di kantor bekas ibuku pernah bekerja. Aku langsung ke bagian informasi. Menanyakan nama ratih windiasari. Dan ternyata benar dugaanku dia satu kantor dengan ibuku dulu. Aku tidak sabar melihat wajahnya! Aku mulai benci. Setelah menunggu cukup lama akhirnya Dari arah kanan datanglah sosok yang memang benar benar aku kenal. Orang itu pun menghampiriku dengan tersenyum seperti biasa tanpa merasa berdosa.
“ratih windiasari. Keren yah acting ibu.” Ucapku yang sekarang tak menaruh sopan padanya.
Sekeliling orang mulai memperhatikan. Aku tidak perduli.
“maksud kamu apa bell?” tanyanya dengan nada lugu.
“ ibu kenal Farah? Nama Lengkapnya Farah Anindya. Orang yang ibu fitnah. Ibu tahu sekarang nasib ibu saya seperti apa? Ibu tahu perasaan saya bagaimana? Hah!” ucapku dengan suara lantang.
“mari ke ruangan saya bell. Kita bicarakan baik baik.” Pintanya sambil menarik tanganku.
“lepasiin... ibu malu semua orang tahu kebusukan ibu? Oh ternyata ratih windiasari adalah seorang pengecut. Terima kasih bu. Saya pamit.” Aku pun meninggalkannya yang kini di tatap oleh banyak pasang mata.
Aku menghampiri indra yang menungguku di tepi jalan.
“udah puas bell?”
“kok diem. Sekarang kita pulang yah.” Ajaknya sambil menarik tanganku pelan untuk segera naik ke motornya.
Sesampainya di kost-an aku hanya termenung. Pandanganku kosong. aku menangis mengingat keadaan ibuku sekarang. Aku masih tidak percaya dengan kenyataan hari ini. kecurigaanku terhadap ratih terbongkar semua. Aku tak henti hentinya menangis di kamarku. Amel menyelinap masuk dan mengelus ngelus rambutku yang terurai.
“sabar yah bell.. tadi indra udah cerita ke gue semua. Gue tahu bell rasanya sakit banget pasti. Yang sabar yah sayang”
aku menghapus air mataku dan memeluk amel erat. “makasih yah mel.”
“refreshing yuk bell.. jalan kemana gitu” bujuk amel
“jangan sekarang mel. Aku masih pengen sendiri”
“oh yaudah gue tinggal ke kamar yah. Jangan lupa makan bell” ucapnya sambil menutup pintu kamarku.
Selang beberapa menit amel pergi Ponselku berdering. Aku yang masih sedikit terisak isak menghentikan tangis mencoba meraih ponselku. Kulihat nama yang tertera ‘bagas’. Pasti ada hubungannya sama ratih berengsek itu.
Ku angkat telponnya.
“haloo… bella.”
“……..”aku sengaja tidak mengucapkan kata kata
“ehm.. gue tahu bell kejadian hari ini di kantor. nyokap gue nggak maksud manfaatin keadaan waktu ketemu sama lo ditaman. Gue bukannya ngebela tapi beri kesempatanlah dia buat nebus kesalahannya sama keluarga lo. Jujur waktu lo mau tinggal dirumah. Nyokap udah cerita sebelumnya. Jadi gue nggak heran tiba tiba lo tinggal dirumah gue. Jadi bell…” telepon pun terputus
“aku mematikan ponsel dan segera keluar kamar. Aku menghampiri kamar amel dengan kondisi pintu yang terbuka. Aku menyelinap masuk dan amel menatapku.
“kenapa bell?”tanyanya heran.
“nanti kalau bagas nelpon. Kamu aja yang angkat. Aku males ngomong sama dia. Anak sama ibu sama aja.” Pintaku sambil menyodorkan ponsel yang tadi aku genggam. Aku pun kembali ke kamar.
No comments:
Post a Comment