Monday, 11 October 2010

chapter 20

Kejadian semalam aku takkan melupakannya. Aku berkhianat pada amel. Kenapa aku melakukannya. Aku jahat. Aku bersedia menjauhi bagas demi nya. Aku rela di caci maki olehnya. Asalkan amel mau memaafkanku. Sudah banyak pengorbanan amel untukku. Aku tidak sanggup melihat amel terluka karena ulahku sendiri. Aku mendatangi kamar amel dengan langkah yang berat. ku lihat pintunya terbuka lebar. Kulihat Seorang ibu sedang sibuk membersihkan kamar di dalam. Aku memberanikan langkahku masuk ke dalam kamar dengan perlahan.

“bu…” ucapku setengah mengagetkannya.

Ibu itu membalikan badannya, masih dengan posisi memegang sapu. “ eh neng, nyari yang punya kamar ini yah? Udah pamitan pagi pagi tadi. Kelihatannya buru buru sekali.”

“oh..” ucapku lemas.

Aku benar benar merasa tidak berdaya sekarang. aku merasa amat sangat bersalah. Aku menuju kamar indra yang letaknya di lantai dasar.

Tok.. Tok…

Indra membuka pintunya dan menarik tanganku pelan untuk masuk ke dalam.

“pasti mau cerita masalah lo sama amel kan.” Ucap indra menerka.

Aku duduk dibawah dan menyandarkan tubuhku ke dinding.

“kamu udah tahu ndra?”Tanyaku dengan ekspresi tak bergairah.

“udah. Amel tadi pagi dateng ke kamar gue. Dia minta gue ngasih ini ke lo bell. Abis itu dia pamitan nggak jelas langsung pergi gitu aja.” Ujar bagas seraya menyerahkan sebuah kotak besar berisikan sesuatu.

Aku mengambilnya dari tangan indra. aku menatap isi di dalam kotak itu. Air mataku mulai menetes. Di dalam kotak itu berisi benda benda kenanganku dengan amel. Ada sebuah album foto berisi memori memori indah selama aku mengenal amel. Aku mengambil sebuah liontin yang bila dibuka dibagian bandul hatinya terdapat foto kecil aku dan amel. Sekarang foto itu tidak ada. Beberapa kertas diary yang ku tulis berdua dengan amel kini sudah di robek robek berhamburan di dalam kotak tersebut. Aku tidak tahan melihatnya. Aku berlari menuju kamarku dengan segera. Aku benci keadaan ini.

No comments:

Post a Comment