Monday, 11 October 2010

chapter 22

Pintu kamarku diketuk seseorang dari luar. Ternyata tata sudah bersiap siap mengajakku pergi. Tapi tidak! Sekarang jam 11 malam. Mau dibawa kemana aku malam malam begini. Melihat dandanan tata yang sedikit berlebihan dan menggunakan pakain minim membuatku bertanya Tanya dalam hati.

“gue udah pesen taxi bell. lo udah siap kan? Taxi nya juga udah nunggu dibawah.

Aku menggangguk dan mengikuti langkahnya perlahan lahan, sampai di taxi kami hanya berbincang bincang sedikit seputar kota Jakarta. Kami pun sampai di tempat yang menurutku asing. Aku belum pernah kesini. Kami turun dari taxi, kemudian tata menarik tanganku untuk bergegas masuk ke dalam tempat asing itu. aku membaca sebuah papan besar “night club”. Aku menelan ludah. Apa yang akan terjadi padaku.

Aku sudah berada di dalam tempat maksiat ini. melihat sekeliling orang yang menghabiskan waktunya berlama lama hanya untuk sekedar mabuk bahkan aku melihat di sebuah sofa panjang yang letaknya di pojok. Beberapa pasangan saling berciuman tanpa rasa malu. Ini tempat umum. Sudah gila memang menurutku. Aku diantar tata masuk ke sebuah ruangan. Kali ini ruangan itu sepi dari keramaian orang orang. Aku duduk di sebuah kursi putar bersama tata. Seseorang mengenakan pakaian hitam menghampiri kami.

“hey bos..” ujar tata tanpa rasa canggung. “oh ya ini ada temen gue yang mau kerja disini. Kira kira dia diterima dibagian apa?” tanyanya kepada bos yang tubuhnya sedikit besar itu.

Dia melirikku, kulihat matanya memperhatikan tubuhku dari mulai tumit kaki hingga ujung rambut.

“ehm… coba kamu ikut saya” ucapnya seraya menatapku.

Aku berdiri dari tempat duduk. “maaf saya lancang. Permisi.” Ucapku diikuti langkah kaki menuju keluar.

Aku tidak perduli teriakan tata yang memanggilku dari tadi, dia pun mengikuti langkahku keluar. Kami sekarang berada di arena parkiran. Tata menatapku sinis.

“mau lo apa sih bell. Udah untung gue tawarin kerjaan. Emangnya gampang jaman sekarang nyari duit. Gue kan nggak enak sama bos.”ucapnya membentakku.

Aku terdiam sejenak dan berusaha menatap mata tata yang terlihat begitu emosi.

“aku tahu ta aku salah. Makasih deh buat hari ini.” aku pun pergi meninggalkannya tanpa memperdulikan dia sedikitpun. Aku baru mengenalnya hari ini dan dia mengajakku ke tempat seperti ini. mau dibilang aku sok suci atau apalah. Aku tidak memperdulikannya. Aku hanya ingin bekerja di tempat yang menurutku layak. Itu saja.

No comments:

Post a Comment