Monday, 11 October 2010

chapter 34

Hari ini aku libur kerja, sedangkan amel kembali ke rumahnya untuk mengurus berkas berkas perusahaan ayahnya.

Ponselku berdering. Aku meraihnya dan melihat nama yang tertera pada layar. Bagas. Aku pun mengangkatnya.

“halo gas.”

“bella. Aku udah ada di restoran apartement kamu nih. Di meja no. 22. kamu ke sini yah. Aku tunggu. Bye.” Bagas pun mematikan teleponnya.

Aku bergegas keluar dan menggunakan lift sampai ke lantai dasar. Aku mencari sosok bagas yang telah menunggu. Ia mengenakan kemeja putih dengan tatanan rambut yang rapih.

“ayo bell duduk.”

Aku pun segera menarik kursiku dan duduk menatap bagas.

“aku punya sesuatu untuk kamu.”

Bagas menjentikkan jarinya ke atas. Beberapa pria membawa alat musik biola melantunkan nada indahnya khusus untuk kami berdua. Aku pun speechlees dengan kejutan yang bagas berikan.

“bell..”

“iyah gas.” Ucapku malu.

Bagas merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan kotak kecil berbentuk hati, membukanya tepat ke arahku.

“kamu mau kan nerima aku.”

Aku terdiam dan hanya menatapnya saja.

Aku tersenyum dan mengangguk pelan.

Bagas memasangkan cincin itu di jari manisku dan memintanya kepadaku untuk memasangkannya pula pada jari manisnya.

“sekarang aku sama kamu udah terikat di cincin ini. kamu nggak boleh jauh jauh dari aku.” Senyum bagas.

“aku pun membalas senyumnya. “aku janji.”

No comments:

Post a Comment