Monday, 11 October 2010

chapter 33

Kini sudah hampir 3 tahun aku masih setia menunggu kepulangan bagas dari inggris. Sekarang aku tidak tinggal di kost-an itu. Kost-an yang menyimpan semua memori indah dalam hidupku. Kost-an yang akhirnya mengenalkanku dengan sosok amel dan indra.

Aku sudah menyelesaikan perkuliahanku. Kini aku juga sudah mulai bekerja di sebuah redaksi majalah di bagian editing. Aku tinggal di sebuah apartement bersama amel. Ya amel. Sahabat setia yang masih menemaniku. Ia pun kini bekerja sebagai manajer di perusahaan ayahnya. Kami menghabiskan waktu bersama sama setiap harinya. Oh ya aku belum memperkenalkan sosok dimas wiryawan yang biasa dipanggil oleh amel dimdim. Dia adalah tunangan amel. Kadang ia menyempatkan dirinya mampir ke apartement untuk menemui amel, kadang kami bertiga juga iseng iseng keluar bersama untuk makan malam bertiga. Dimas sudah mengetahui hubungan jarak jauhku dengan bagas.

Hari ini aku mengecek e-mail yang masuk. Tertera bagas.bella@yahoo.com di salah satu inbox ku. Aku mengklik dan membukanya.

bella sayang, besok aku pulang! Jemput aku di bandara sekitar jam 2 siang yah. Love you.”

Aku tersenyum senang membacanya. Aku pun memberitahu amel soal kabar bagas akan tiba di jakarta besok. Ia ikut senang dan mengajakku untuk pergi ke sebuah mall membeli baju baru.

“bell… nanti pas bagas pulang lo harus tampil cantik.”

Aku pun mengikuti saran amel dalam memilih baju. Kini sebuah dress berwana biru tua dengan panjang selutut yang dipenuhi motif bunga sudah ku genggam. Besoknya amel sibuk merias wajahku. Mengatur gaya rambutku dengan alat roll nya. Hampir satu jam amel mempoles seluruh tubuhku dari bawah hingga atas.

Aku melihat ke cermin. Ini aku? Gumamku dalam hati.

“gimana bell. Cantik kan lo. Hehe.”

Aku pun tersenyum. “ makasih banget yah mel.”

Dimas sudah menunggu kami di parkiran bawah. Ia ikut serta mengantarkan kami menjemput bagas di bandara. Mobilpun sampai di tempat yang kami tuju. Aku tidak sabar menunggu sosok bagas yang aku rindukan. hampir selama tiga tahun kami tidak bertatap muka langsung, kadang hanya bertatapan pada layar laptop webcam saat melakukan chating. Itu pun hanya sebentar. Aku mencari cari sosok bagas dari arah keramaian orang yang keluar. Amel mendapati sosok bagas dan menepuk bahuku sedikit kencang.

“itu bagas.” Unjuk amel ke salah satu orang.

Bagas menyadari sosok kami bertiga dan menghampirinya.

Aku sedikit terpesona melihat sosok bagas yang sekarang. ia jauh lebih tampan.

“ini bella kan?” tanyanya seraya menatap kedua mataku.

“iya gas. Masa lupa.”

“kamu makin cantik bell.” Ucap bagas seraya mencium hangat keningku.

Amel memperkenalkan dimas kepada bagas.

“oh iya gas. Nih kenalin tunangan gue. Dimas.

“hai gue bagas”

“oh ini yang namanya bagas. Gue dimas.” Ucapnya saling berjabatan tangan.

Tanganku digenggam oleh bagas, menuju ke arah parkiran mobil dimas.

Kami berempat pun masuk ke dalam. Dimas dan amel duduk di posisi depan, sedangkan aku dan bagas duduk di kursi belakang.

Amel memulai percakapan.

“gas, kapan nih temen gue yang udah lumutan itu lo ajakin tunangan.” Sindir amel setengah bercanda seraya memperlihatkan salah satu jarinya yang dilingkari oleh cincin emas.

“eitss. Tenang aja mel. Haha”ucap bagas sesekali melihat ke arahku. Kami pun tertawa di dalam mobil.

No comments:

Post a Comment