Aku mulai bekerja di café tersebut dan terkadang amel mengantarku pulang pergi. Aku juga masih serius dengan kuliahku, selesai kuliah aku langsung bergegas ke tempat kerja melayani para pengunjung café yang kadang hanya memesan segelas minuman dan membersihkan café ketika sudah masuk jam tutup.
Suatu hari tepatnya hari rabu saat aku pulang dari kampus dan bergegas ke café melewati pintu belakang, seperti biasa aku mengganti pakaian ku seperti pelayan yang lainnya.
“tuh ada pengunjung lagi. Cepat layani” ujar salah satu pelayan senior di café tersebut.
Aku pun menghampiri pengunjung yang baru datang itu, tidak lupa membawa buku menu dan selembar kertas beserta bolpoin untuk mencatat pesanan pengunjung.
“permisi.. mau pesan apa” tanyaku di depan meja nomor 18
Glek!
Aku tercengang mendapati sosok yang aku kenal.
“bagas” ucapku terbata menatapnya.
“kamu kenal dia beib?” ucap wanita disamping bagas. Parasnya cantik layaknya model.
“iya kenal dia temen aku.”balasnya sambil membolak balik buku menu
“ehm, gue pesen orange juice 2 sama friench fries nya 1 aja. Oh ya pastanya 2 porsi deh.”ucapnya sambil tersenyum kepadaku”
belum selesai aku mencatat pesanannya dia berujar lagi.
“kalau bisa rada cepetan yah bell. Udah laper nih”ucapnya sambil tertawa kecil.
“baik. Tunggu sebentar.” ucapku meninggalkan mereka berdua.
Beberapa menit kemudian aku mengantarkan semua pesanannya ke meja bagas.
“ada lagi yang ingin di pesan” tanyaku lagi sambil sesekali melihat perempuan di samping bagas yang daritadi tidak lepas merangkul tangannya bagas.
Bagas hanya menggeleng gelengkan kepala tanda tidak. Dan aku pun pergi ke ruang belakang untuk membantu mencuci peralatan makan yang kotor.
Kenapa aku sedikit jealous yah ngeliat bagas sama perempuan itu. Ah. Cepat cepat aku hilangkan fikiran itu dan kembali bekerja.
Sekitar pukul 9 Malam aku selesai bekerja dan seperti biasa amel telah menungguku di parkiran mobil. Aku pun mencoba membuka pintu mobil dan tanpa sungkan masuk ke dalamnya.
“gimana bell hari ini. Capek yah?”Tanya amel sambil melepas rem tangan dan segera menjalankan mobilnya
“seperti biasa mel. Haha.. tapi aku seneng kok”ucapku kelelahan.
Sampai di kost-an aku langsung menuju kamar, menaiki anak tangga dan merebahkan tubuhku di kasur.
“bell gue tutup yah pintunya. Kayaknya lo capek banget deh. Met istirahat bell” ujar amel sambil menutup erat pintu kamarku.
Sebenarnya Aku belum mengantuk dan fikiran ku terhadap bagas barusan masih melekat jelas. Fikiran ini sangat mengganggu. Aku menutup wajahku dengan bantal dan coba memejamkan mata.
ponsel ku berdering disamping kasur yang aku tiduri.
“siapa sih orang gila yang nelpon jam segini” ucapku kesal sambil meraih ponsel.
Kulihat tidak ada pemilik nomor itu di phone book ku. Namanya tidak tertera pada layar hanya ada nomor asing yang tak ku kenal.
Dengan tidak bersemangat aku mengangkat telpon itu.
“haloo… ini siapa yah! Kalau nggak penting nggak usah telpon. Aku ngantuk nih” jawabku panjang lebar.
Tidak ada sahutan dari seberang
“oh yaudah.. aku matiin yah! Bye”
Tiba tiba ada suara batuk kecil yang di ulang ulang di ujung telpon. Orang asing itu sepertinya ingin memulai perbincangan.
“hoy bell. Tadi kok muka lo cemberut gitu pas di café”
Glek! Suara laki laki itu sepertinya aku kenal.
“ini gue bagas bell. Apa kabar lo? Sekarang tinggal dimana?”tanyanya ingin tahu.
Aku bangun dari tempat tidur dan duduk menyandar ke dinding. Lalu aku melanjutkan perbincangan itu.
“ehm, aku tinggal di kost-an gas. Bagaimana kabar ibu ratih?” tanyaku asal
“oh baik baik aja kok. Dia nanyain lo terus tuh bell. Katanya kok nggak pernah mampir ke rumah. Gue lupa kalau lo belum tahu nomor gue, gimana mau main kesini. Haha “jawabnya dengan di ikuti tertawa kecil.”
“hehe” ucapku datar.
“yaudah met tidur deh bell. Jangan lupa save nomor gue ya” pintanya sebelum mengakhiri perbincangan.
“oke gas. Bye!” balasku sambil mematikan telpon.
Kemudian aku mengutak atik ponsel dan aku save nomor bagas. Aku taruh handphone itu disamping kasur dan aku menutup wajahku dengan bantal kembali mencoba memejamkan mata.
No comments:
Post a Comment