Monday, 11 October 2010

chapter 9

Paginya pintu kamarku di ketuk oleh seseorang. Aku bergegas meraih gagang pintu dan membukanya. Krek!

Kudapati sosok amel yang saat itu tampil cantik tersenyum menatapku. Ia mengenakan baju berwarna merah dengan bawahan rok jeans selutut. Rambutnya panjang terurai dihiasi pita kecil.

“ayo bell. Jadi bareng kan?”

Aku pun mengambil tasku dan mengunci pintu kamarku. Kami pun bergegas ke bawah menuju mobil kepunyaan amel.

Sesampainya di kampus dan selesai bertukaran nomor handphone kami berdua pergi masing masing meninggalkan mobil di parkiran menuju gedung sesuai jurusan. Oh yah aku mengambil jurusan design grafis sedangkan amel mengambil jurusan akuntansi perpajakan. Memang jauh berbeda. Tapi disinilah akhirnya aku memiliki seorang sahabat.

Selang beberapa bulan kemudian kami sangat akrab seperti layaknya saudara kandung dimana saat amel ingin bepergian jalan, menonton, shoping atau sekedar membuang jenuh pasti akulah orang yang di ajaknya. Amel pun sudah tahu tentang kisahku yang membuatku dijauhi oleh kebanyakan orang. Aku salut kepadanya, dia tidak sedikit pun menjauhiku bahkan sebaliknya dia memberi dukungan penuh agar aku tetap konsentrasi kuliah dan tidak memperdulikan orang orang sekitar yang menghinaku.

Oh ya aku tersadar uang yang di berikan ayah tiriku mulai menipis. Mau tidak mau aku harus mencari kerja paruh waktu yang uangnya aku gunakan untuk membayar tagihan kost-an dan hidupku sehari hari. Aku pun tidak tahu sampai kapan aku tinggal di kost-an ini. Sedangkan amel, ya dia termasuk gadis yang beruntung terlahir dari keluarga yang berada. Tapi keinginan dia untuk tinggal sendiri di sebuah kost-an kecil tidak dapat di ganggu gugat oleh kedua orangtuanya. Tapi tetap amel mendapatkan transferan uang ke ATM pribadinya. Posisi ku dengan amel sangat keterbalikan 180 derajat.

“mel, aku mau coba coba cari kerja nih.” Ucapku memulai perbincangan di atas balkon.

Amel membenarkan posisi duduknya dan menatapku.

“oh yah? Baguslah bisa mandiri”

“ehm, besok kan nggak ada jadwal kuliah. Aku mau muter muter kota Jakarta yah berbekal ijasah SMA. Siapa tahu ada kerjaan yang pas dan gajinya lumayan.” Ucapku semangat

“sebentar…” ucap amel memotong pembicaraannya.

Ia mengutak atik handphonenya, sepertinya mencari nama di phone booknya.

“eeh, halo pak diman! Masih butuh karyawan kan. Amel ada temen nih yang minat kerja. besok amel anter yah ke sana.” Telepon pun dimatikan.

Aku hanya memandang amel heran.

“besok lo ikut gue bell. Kita ke café marina nggak jauh dari kampus. Lo bisa mulai kerja disana. Soal gaji mah gampang bell. Cukup kok”jawabnya tersenyum manis menatapku sambil menepuk bahuku pelan.

“oh gitu yah. Makasih deh mel”jawabku membalas senyumnya.

Aku mengerti dan sangat mengerti niat amel untuk membantuku. Pasti café itu salah satu usaha milik keluarganya. Aku berhutang budi kepada amel.

Terima kasih banyak mel.

No comments:

Post a Comment