Hari ini hari minggu. Amel mengetok pintuku seperti biasa. Semalam pintuku tidak terkunci dan amel masuk tanpa ragu menghampiri aku yang masih tertidur pulas.
“bell… bella! Bangun dong. Anterin gue nyalon. Hehe”ucapnya manja sambil menarik narik bantal yang masih melekat di wajahku.
Aku pun dengan terpaksa bangun dan menatap amel.
“sekarang jam berapa?” tanyaku sambil menguap.
“jam 10 bel.. ayo bangun! Matahari aja udah jogging tadi masa lo masih molor gini sih. Haha” ucap amel meledek.
“iya iya aku bangun. Jadi kan ke salon? Aku mandi dulu yah”jawabku sambil bergegas mengambil handuk dan meninggalkan amel ke kamar mandi.
Sesampainya di salon, aku setia menemani amel yang sibuk dengan aktifitas perempuannya. Mulai dari creambath, masker rambut, facial, manicure pedicure, spa. Sampai ku habiskan waktuku percuma duduk di kursi tamu selama kurang lebih 5 jam. Aku pun menyibukan diri dengan mengutak atik ponselku. Ada sms masuk
Kulihat nama yang tertera ‘bagas’. Ehm, aku pun membuka isi message darinya.
Bel. Lo lagi sibuk nggak hari ini? Ketemuan yuk di café marina nanti malem. Gue tungguin di parkiran deh sampe lo selesai kerja. Oke see you bell.
Setelah membaca sms itu, aku masukan ponsel ke dalam saku celana jeans kembali. Aku ragu untuk menemuinya. Bisa saja aku mematung karena gugup berhadapan dengan bagas.
Amel menghampiriku dengan wajah yang lebih fresh dan tetap cantik.
“bell udah selesai. lo laper kan? Sekalian gue anterin ke café yah. Abis makan kembali ke aktifitas kerja lo. Oke bell? “ ajaknya riang.
Aku pun mengganguk mengiyakan.
Kami menuju parkiran dan kami pun bergegas menuju café.
Sesampainya di café aku mengganti pakaian kerjaku dan mengantarkan makanan untuk amel.
“nih mel. Kamu makan duluan aja. Pasti capek seharian nyalon. Aku tinggal kebelakang yah. Udah mulai banyak pengunjung nih. Hehe” ucapku kepada amel.
Aku lupa akan satu hal, aku kembali ke meja amel.
“oh ya mel. Nanti pulang nggak usah di jemput dulu yah. Kamu istirahat aja. Aku ada keperluan sebentar.”
“oke sip” jawab amel sambil mengaduk aduk makanannya.
Aku pun kembali ke ruang belakang melakukan aktifitas kerjaku seperti biasa.
Malam harinya setelah selesai membantu membersihkan lantai dan merapihkan meja. Aku keluar melewati pintu masuk pengunjung dan tidak lupa berpamitan pada atasan.
Diluar sebuah mobil bmw silver yang pernah mengantarku pulang sudah terparkir manis di depan café.
Sosok pria yang ku kenal kemudian keluar dari mobil tersebut. Melepaskan kacamata hitamnya dan merapihkan baju yang ia kenakan. Aku pun menghampirinya.
“gas, udah nunggu dari jam berapa?” tanyaku heran.
“ehm, masuk ke mobil dulu yuk”. Ucapnya sambil menghampiri pintu dan membukanya untukku.
Setelah kami berdua berada di mobil. Bagas pun menjawab pertanyaanku yang belum sempat ia jawab.
“tadi gue nungguin lo dari sore sekitar jam 4 lah.” Jawabnya cuek sesekali matanya berkonsentrasi melihat jalan.
“tapi kan kamu sendiri bilang ketemuannya malem. Kenapa datengnya lebih awal?”Tanyaku kembali heran.
“terserah gue sih. Haha “ jawabnya aneh.
ternyata hari ini bagas ingin mengantarku pulang ke kost-an. Aku arahkan jalan menuju kost-an ku. Sampailah mobil bagas di depan halaman.
“oh jadi disini lo tinggal. Kapan kapan gue main yah” ucapnya sambil membuka pintu mobil dari arahku.
“boleh gas. Mampir aja” jawabku sambil tersenyum.
“yaudah gue pulang yah.” Jawab bagas sambil memasuki mobilnya kembali.
“tunggu gas..” ucapku menghentikan langkahnya.
“salam buat bu ratih ya”
“oke” ucap bagas meninggalkanku.
Aku pun menuju ke kamar dan seperti biasa merebahkan tubuhku di atas kasur.
Amel datang tiba tiba tanpa mengucapkan salam ataupun mengetuk pintuku terlebih dahulu.
“bell nih nasi goreng gue bungkusin buat lo. Pasti belum makan kan” ujarnya sambil menyodorkan bungkusan plastik hitam.
“makasih yah mel” jawabku bergegas mengambil piring dan sendok.
“lo udah makan mel?” tanyaku
“udah tadi sendirian.” Jawabnya datar.
Tiba tiba suasana hening sejenak.
“bell…” ucap amel ragu
“iya kenapa mel? “ tanyaku heran
Tadi gue liat lo pulang di anterin sama cowok. Itu bagas bukan? “ Tanya amel penasaran.
Glek! Aku tersedak dengan cepat aku mengambil air minum dan menenggaknya.
“iya kok tahu namanya bagas.” Tanyaku sedikit kaget
Amel pun dengan sedikit malu malu menceritakan awal mula ia mengenal bagas. Waktu jaman SMA ia ternyata satu sekolah dengan bagas dan memberitahuku bahwa sudah lama ia memiliki perasaan dengan bagas. Sedangkan untuk mendekati bagas itu sulit. Banyak anak perempuan yang antri mendekatinya tetapi tidak satupun pernah menjadi kekasihnya. Amel pun mengaku dia tidak agresif seperti yang lainnya. Dia hanya memendam rasa terhadap bagas, bahkan sampai sekarang.
“nge pas banget yah bell bisa ngeliat bagas walaupun dari jauh. Setidaknya gue tahu sekarang dia kayak apa. Dan ternyata makin ganteng aja. Hahaha” ucap amel sedikit tertawa malu.
“hehe gitu yah mel” ucapku terpaksa
‘gimana caranya lo bisa kenal sama bagas bell.. setahu gue dia tuh rada angkuh kalau sama lawan jenis” tanyanya penasaran.
“nanti deh mel kapan kapan aku ceritain. Nih nasi goreng jadi lama kan abisnya. Haha ‘ ucapku sambil tertawa.
Belum selesai aku menghabiskan nasi gorengku, amel pamit kembali ke kamarnya dan tidak lupa menutup pintu kamarku.
No comments:
Post a Comment