Selama tinggal di kost-an ini. Aku belum mengenal satupun penghuni kost-an pria. Kadang aku hanya berpapasan di depan pagar tanpa saling sapa. Aku menghampiri kamar amel yang pintunya terbuka setengah. Aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar amel yang penuh dengan boneka dan pernak pernik perempuan.
“eh mel..” sapaku saat melihat amel sibuk mengutak atik laptopnya diatas kasur.
“hoy bell, tumben banget lo kesini? Mau pinjem apa? ” tanyanya tanpa melirik ku sedikit pun..
“nggak kok mel. Aku pengen ngajakin kamu kenalan sama penghuni kost pria yang di bawah.” Ucapku sambil nyengir
“hahaha aneh lo ah. Ada angin apaan sih bella sayang. Lo mau kita kenalan terus jabatan satu persatu anak cowoknya.” Ucapnya kali ini melihat ku dengan ekspresi menahan tawa.
“ya nggak gitu juga kali mel. Udah hampir dua bulan kita ngekost disini. Itung itung silaturahmi kan. Hehe” jawabku sekenanya.
“yaudah ayo kebawah, gue turutin deh apa kemauan lo daripada penasaran.” Amel pun mematikan laptopnya dan menarik tanganku untuk beranjak bangun dari tempat duduk.
Kami menuruni anak tangga dan mulai menghampiri satu persatu kamar pria. Aku sedikit malu berbeda dengan amel yang kelihatannya terbiasa dengan kondisi ini. Sampai akhirnya kami mengetuk pintu penghuni terakhir kamar yang ada di ujung. Nomor. 15.
Tok.. Tok.. Tok..
Seorang pria menggunakan kacamata dengan rambut setengah botak membuka pintunya.
“wah bella.. ada perlu apa kamu kesini? “ Tanya pria itu.
Glek! Amel tercengang dan aku ingin pingsan.
“eh bapak nge kost disini juga ternyata” ucapku terbata bata.
“iya, rumah saya di luar kota. Susah kalau mau bolak balik kampus-rumah. Makanya sementara saya mengekost. Hayo mau masuk kedalam.”ajaknya sambil mengarahkan tangannya ke dalam.
“oh nggak pak. Makasih. Saya permisi ke kamar dulu.” Ucapku tersenyum sambil menarik tangan amel.
Kami lari menuju lantai atas. Amel sudah tidak kuat lagi menahan tawanya.
Sesampai di balkon amel tertawa lepas.
“hahaha bodoh banget lo bell. Dosen juga mau di ajak kenalan?” ucapnya menyindirku masih dengan ketawa khasnya.
Aku malu dan menjitak pelan kepala amel.
“se enggaknya kan ada hikmah nya mel. Aku jadi tahu kalau ada dosen yang nge kost juga disini. Kan kapan kapan aku bisa minta materi tambahan.” Jawabku sambil menjulurkan lidah. Meledek.
“haha bodo amat ah bel. Gue ngakak abis nih ngeliat ekspresi lo tadi.” Ucap amel kembali menjitak ku.
“eh mel. Dari sekian banyak cowok yang kenalan tadi. Ada yang kamu taksir nggak? “ tanyaku asal.
Amel duduk di lantai dan melihatku.
“itu kamar nomor 8”
Aku mengernyitkan alisku sambil berfikir. “oh Indra. Ciyee amel”
Ih kan tadi lo nanya. Giliran gue jawab salah.” ucapnya sedikit kesal
“lo sendiri bell?” tanyanya balik
“ehm, nggak ada mel. Haha” ucapku sambil tersenyum.
“terus bagas mau di kemanain mel?” aku pun mulai memancing pertanyaan itu.
“ya bagas sih tetep ada di hati gue bell. Hehe. ”kali ini ekspresi amel memerah.
“Yaudah gue ke kamar duluan yah.” Ujar amel meninggalkanku.
Aku pun ikut masuk ke kamarku dan mulai merapihkan isi kamar yang sedikit berantakan. Saat aku sibuk merapihkan kasurku, amel muncul tiba tiba di depan pintu. Ia membawa sebuah tas yang lumayan cukup berat.
“mau kemana kamu mel?” selidikku sambil menengok ke arahnya.
“ehm, gue mau balik dulu. Lo mandiri yah kalau nggak ada gue bell.” Ucapnya serius.
“ih apaan sih mel. Santai aja. Lagi ada keperluan mendadak yah? “ tanyaku sedikit penasaran dan menghampirinya.
“iya. Tadi gue di telpon bokap. Hari ini gue harus pergi ke aussie jenguk mama disana lagi sakit. Nggak enak juga udah di pesenin tiket pesawatnya” Jawabnya.
“jaga kesehatan yah mel disana.” Ucapku seraya memeluk tubuh mungilnya.
Aku pun mengantarkan amel ke bawah dan selang beberapa menit mobil amel sudah melesat jauh meninggalkan kost-an ini.
No comments:
Post a Comment