Monday, 11 October 2010

chapter 14

Selama amel pergi, aku semakin dekat dengan indra. sekarang dia menjadi tempat curhatku dan sebaliknya. Akhir akhir ini indra sering bercerita tentang wanita yang sedang ia taksir. Aku pun selalu mendengarkan curahan hatinya.

Langit sudah gelap, udara malam mulai masuk melalui celah jendelaku. Aku termenung di atas kasur selama beberapa menit. Aku membangunkan badanku dari kasur dan beranjak menuju lemari pakaian. Aku membuka lacinya satu persatu mencari sesuatu yang sudah lama aku tidak lihat. Sebuah kotak pink berisi teddy bear pertamaku masih terlihat seperti baru. Aku rindu dengan boneka ini. teddy coklat yang masih harum wanginya. Aku masih ingin bertemu dengan orang yang memberikannya untukku. Aku berbaring kembali sambil menggengam teddy bear itu untuk menemaniku tidur malam ini. aku pun terlelap malam ini.

aku sudah duduk di teras balkon. Menatapi pemandangan dengan segelas teh hangat. Ponsel ku bergetar di dalam saku celana yang aku pakai. Kulihat nama yang tertera pada layar. Bagas. Ada apa yah? Tanyaku dalam hati.

“halo gas. Ada apa?”ucapku memulai perbincangan.

“lo turun deh bell. Gue ada di halaman kost-an lo nih. Hehe”balasnya sambil cengengesan.

“ya sebentar.” Aku pun mematikan ponselku.

Dengan segera kuturuni anak tangga satu persatu dan mendapati sosok bagas berdiri di dekat mobilnya.

“rajin banget pagi pagi gini udah nyamperin tuan puteri gas. Hehe”ujarku asal.

“yee tuan puteri apaan. Ikut gue yuk.”

“kemana?”tanyaku penasaran.

Tanpa berkata tiba tiba tangan bagas menarikku pelan masuk ke dalam mobilnya. Aku melihat dari kejauhan, indra memandangku dan sesekali melirik ke arah bagas. Dia pun hanya melambaikan tangannya pelan ke arahku saat aku berhasil masuk ke mobil secara paksa oleh bagas.

Mobil pun melaju.

Garasi dibuka. Bagas pun memarkirkan mobilnya. Aku membuka pintu mobil dan segera keluar. Ternyata aku dibawa kerumah bagas. Tanganku ditarik olehnya untuk mau ikut masuk ke dalam. Lagi lagi aku tidak bisa menghindar. ratih sudah duduk di ruang tengah bersama seorang gadis. Bagas menyuruhku untuk duduk di kursi sedangkan bagas berjalan menghampiri gadis yang sepertinya aku pernah lihat.

“eh bella akhirnya bisa kesini juga. Sibuk yah?”Tanya ratih kepadaku.

Posisiku kini seperti orang dihakimi. Aku duduk tersudut diantara tiga orang, mereka semua menatapku.

“e .. eng nggak kok bu.” Ucapku sambil menunduk.

“eh iya ini kenalin manda pacarnya bagas. Semalem dia menginap disini. Sekalian aja ibu kenalin sama kamu bell”

Aku pun mendekati manda dan mengajaknya berjabat tangan. Tapi oh tidak. Angkuhnya wanita ini. dia hanya menatapku sinis.

Aku hanya bisa teriak di dalam hati, maksud di undangnya aku disini untuk apa sebenarnya? Atau hanya untuk mengenalkan gadis sombong ini? oh kenapa aku jadi cemburu melihat gadis ini yang sedari tadi duduk manis disamping bagas.

“bell… ibu ada kerjaan untuk kamu. Lumayan buat nambah nambahin uang jajan. kata bagas sekarang kamu tinggal di kost-an yah?”tanyanya lagi.

“oh makasih bu. Saya nyaman dengan pekerjaan saya yang sekarang. Oh ya bella permisi pulang duluan yah bu. Ada keperluan mendadak.”ucapku asal.

“oh ya sudah kalau begitu biar bagas antar kamu pulang”.

Aku melihat wajah manda yang sinis melihatku lagi. Sumpah aku mulai muak dan sepertinya ingin muntah sekarang.

“nggak usah repot repot deh bu. Saya sudah mulai hafal daerah sekitar sini. saya pamit pulang dulu yah, bu ratih, bagas, manda”ucapku pelan pergi meninggalkan mereka bertiga.

Di jalan aku menggerutu, kenapa pagi ini aku harus sarapan orang orang angkuh seperti mereka. Kenapa bagas tidak membela ku saat manda bersifat sinis. Kenapa aku mau di ajak bagas untuk ke rumah itu lagi. Arrggh aku kesal hari ini. akhirnya aku sampai di kost-an, aku tidak langsung kembali menuju kamarku malahan aku sengaja menghampiri kamar indra berharap ia ada di dalam. Ku ketuk pintu kamarnya, indra pun segera membukakannya untukku.

“ada apa bell? Ayo masuk” ajaknya

Aku pun tanpa sungkan masuk ke dalam dan menceritakan kekesalanku pagi ini. indra malah tertawa melihat ekspresiku yang marah marah.

“haha ada yah cewek macem manda. Tadi mah timpuk aja bell pake sandal jepit lo” canda indra.

“pengennya sih gitu ndra. Sumpah yah aku salah alamat hari ini.”

“hahaha…”indra pun masih tertawa.

Kami pun diam sejenak.

“jadi yang tadi pagi narik tangan lo paksa itu namanya bagas?” selidiknya ingin tahu.

Aku pun hanya menganggukkan kepala.

“ooh..”ucap indra datar.

No comments:

Post a Comment