Monday, 11 October 2010

chapter 15

Akhir akhir ini indra sering mengantarku ke kampus dan menjemputku saat pulang kerja di café. Kami semakin akrab seperti kakak beradik. Aku teringat amel. Seingatku dia pernah bilang bahwa dia menyukai indra. terlintas di pikiranku, Apa aku harus mendekatkan mereka berdua. Aku ingin amel bahagia, indra orang yang tepat menurutku.

Hari ini aku bekerja lembur karena malam sabtu pengunjung yang datang ke café marina sangat ramai. aku membawa buku menu dan mencatatnya dari meja ke meja. Akhirnya hari ini aku selesai bekerja. Atasanku tidak lupa memberikan upah tambahannya padaku. Aku keluar dari café dan berniat mencari angkutan umum untuk pulang, indra mengabariku bahwa dia tidak bisa menjemputku malam ini. saat aku berdiri di dekat trotoar jalan, sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Aku mencoba melihat dari kaca depan siapa pemilik mobil ini.

“amel?” ucapku pelan.

Seorang perempuan membuka kaca jendelanya dan mengisyaratkan dengan jarinya agar aku masuk ke dalam mobil.

Aku sedikit kaget dengan penampilan baru amel.

“mel ini bener kamu?” tanyaku heran sambil menatapnya tanpa berkedip.

“iyalah siapa lagi. Makin Cantik kan gue?” ucapnya bercanda sambil menyetir.

“hehe cantik kok mel..” balasku.

Sampai di halaman kost-an. Kami pun turun. Aku sudah menceritakan panjang lebar mengenai kedekatanku dengan indra selama di perjalanan. Amel pun ikut senang. Kami menuju kamar dilantai atas. Tas tas bawaan amel cukup berat. aku membantunya membawa ke dalam kamar. Setelah selesai berbenah, Kami pun berbincang bincang sebentar melepas rindu.

“kabar kamu baik kan mel?”tanyaku sambil tersenyum melihatnya.

“baik dong. Eh lanjutin dong ceritanya tentang indra.”Tanya amel sedikit penasaran.

“aku mau nyoba ngedeketin kamu sama indra, kamu mau nggak? Hehe” ucapku sedikit tertawa kecil.

Amel termenung sebentar

“bella sayang. Terserah lo aja deh. Hehe” ucapnya malu

“yee bilang aja sih mau. Dasar amel woo” ucapku sambil mencubit pipinya pelan.

Aku pun membangunkan diri untuk berpamitan kembali ke kamar. Amel memanggilku saat kakiku sudah melangkah ke luar pintu kamar. Aku pun kembali duduk di sebelah amel.

“kenapa lagi mel? Masih kangen yah?”

“ehm.. tadi pas gue pulang dari bandara. Gue ngeliat bagas sama cewek. Itu pacarnya kan? Lo pasti tahu kan bel? Kenapa nggak pernah ceritain ke gue?”tanyanya sedikit menunduk.

“aku kira kalau aku kasih tahu kamu. Kamu bakalan sakit hati mel. Aku nggak mau ngeliat kamu sedih. Itu aja.”jelasku padanya.

“sekarang apa bedanya. Gue tahu juga kan. Tadi gue ngeliat si bagas nganterin tuh cewek mesra banget. Kayak mau pergi jauh aja ceweknya. Ahh nyebelin.” Ucap amel sambil memukul bantal.

“sabar mel.. aku tinggal yah ke kamar. Tenangin diri kamu dulu aja. Bye” aku pun pergi meninggalkan amel sendirian.

Dikamar pun aku jadi ikut ikutan memikirkan bagas. Aah aku tersadar. Buat apa aku pusing pusing memikirkan dia sedangkan dia tidak menunjukkan kepeduliannya terhadapku. Bahkan saat aku dipermalukan dirumahnya kemarin dia tidak membela ku sedikitpun. Huh!

Tok.. tok.. tok..

Seketika suara ketukan pintu dari luar kamar menyadarkan lamunanku. Aku bergegas membuka pintu.

“Indra” ucapku saat melihat dia mematung di depan pintu.

“ e ehh bell.. tadi gue abis jalan sama temen. Terus gue ngeliat ada boneka panda putih lucu. gue iseng beli buat lo. Hehe terima yah”ujar indra seraya mengeluarkan boneka tersebut dari balik badannya.

Aku speechless.

“em makasih yah ndra.”Balasku sambil mengambil boneka itu dari genggamannya.

“sip. Gue balik ke kamar yah bell.”ucapnya sambil meninggalkanku dengan cepat.

Aku menutup pintuku kembali. Aku bingung dengan perasaanku. Ada yang beda. Bukan perasaan yang biasanya aku rasakan saat berdekatan dengan indra sebelumnya. Aku duduk di atas kasur, memandangi boneka yang baru saja aku terima. Boneka ini benar benar lucu. eh! Aku teringat akan tawaranku untuk membuat amel dan indra jadian. Aku tidak boleh mengingkarinya.

No comments:

Post a Comment