Monday, 11 October 2010

chapter 16

Aku menghitung uang simpananku selama bekerja. Aku pisah menjadi dua tempat. Satu untuk digunakan membayar bulanan kost-an. Satu lagi aku gunakan untuk biaya jaga jaga. Lumayan juga uangnya. Ujarku dalam hati. Hari ini aku berniat menjenguk ibuku. yah sudah hampir 2 tahun aku tidak menemuinya. Aku ingin bercerita tentang kisah hidupku sekarang. Yah ibuku memang memiliki kelainan jiwa aku tahu. tapi aku merasakan ibuku mengerti keluh kesahku. Mungkin itu yang disebut naluri ibu.

Selesai bersiap siap dan mengunci rapat pintu kamarku. Aku berjalan ke kamar amel hanya untuk melihat kondisinya sekarang. Aku mengetuk pintunya dan amel membukanya dengan wajah riang. Tidak biasanya.

“mel.. aku ada keperluan. Mau jenguk ibu aku.” Jelasku kepadanya.

“oh yaudah bell. Sorry nggak bisa nganter nih. Nanti gue ada janji ketemuan sama orang” balasnya sambil menggenggam tanganku.

“gapapa mel. Oke bye.” Aku pun meninggalkannya berjalan menuju arah tangga turun.

Saat ingin membuka pagar, indra menghampiriku sambil berlari kecil.

Aku membalikan badan. “ kenapa ndra lari lari gitu, ada maling?” candaku.

“yah haha mau kemana bell?”

“ehm.. ada keperluan deh pokoknya.” Jelasku sambil berusaha menutup pintu gerbang.

“sebentar bell… tunggu sini yah” pintanya sambil berlari kembali.

Aku pun menuruti perintahnya untuk menunggu. Indra kembali lagi menghampiriku dengan motornya.

“ayo bell naik. Gue anter sampai tempat tujuan. Gratis. Hehe” ucapnya dengan wajah tertutup helm.

“nggak usah deh ndra. Ngerepotin.”ucapku sambil berjalan pelan mencoba menghindar.

“yah bella nggak asik nih. Oke yah bell cukup tahu.”ucapnya dengan nada kesal.

Iya iya ndra.” Aku pun mau tidak mau akhirnya menaiki motor indra.

Kami pun sampai di sebuah rumah sakit jiwa di daerah bogor. Aku melihat ekspresi indra yang sedikit kebingungan.

“ayo ndra, mau masuk ke dalem nggak?” nanti kamu pasti ngerti kok.” Ajakku sambil menarik tangan indra menuju bagian receptionist.

“mbak. Saya ingin menjenguk ibu Farah Anindya.”ucapku kepada salah satu suster.

Suster itu mengantarkanku ke tempat ibuku. kami melewati lorong lorong dan melewati taman seraya melihat pola tingkah laku pasien disana. Kami pun sampai. Aku melihat ibuku duduk menunduk di kasurnya. Aku menghampirinya dan segera memeluknya.

“maa.. “ tangisku terpecah.

Ibuku hanya terdiam dan sedikit mengarahkan pandangannya kepadaku.

Aku mengambil posisi duduk bersebelahan dengan ibuku dan menggengam hangat kedua tangannya.

“bu aku sudah tidak tinggal bersama ayah lagi. Aku memilih tinggal di luar. Waktu itu aku ditolong oleh seorang ibu bernama ratih. Lalu aku…”

Ibuku langsung melihatku. Dan melanjutkan kata kataku yang terpotong olehnya.

“ratih windiasari” iya mengucapkannya berulang-ulang.

Aku kaget! Siapa yang ibuku maksud. Aku mulai berfikir dengan naluriku. Mengait ngaitkannya kemasa lalu ibuku.

Oh tidak! Jangan bilang dia sahabat ibuku yang dengan tega menyebar berita kebohongan itu.

Aku melihat wajah ibuku dengan pandangan kosong. setetes air mata jatuh di pipinya. Aku tidak tega melihatnya.

Aku tahu sekarang maksud ratih keparat itu menolongku. Mungkin dia ingin menebus kesalahannya. Dia pasti mengenalku sebelumnya karena setahuku ibu banyak menceritakan aku kepada teman teman di kantornya dulu. Sialan!

Aku menarik tangan indra keluar menuju parkiran. Indra yang sedari tadi terdiam menuruti langkahku.

“gue tahu bell perasaan lo sekarang. Tapi jangan keluarin emosi lo disini.” Ucap indra menenangkanku sambil menggunakan helmnya.

“ kamu nggak tahu ndra dan nggak pernah tahu rasanya.” Aku menunduk dan menangis.

Indra menyuruhku naik ke motornya.

“sekarang mau kemana bell?” ujarnya sambil menoleh ke posisiku yang berada di belakangnya.

“antar aku ke kantor ibuku. nanti aku arahin jalannya ndra.”

Indra pun menge-gas motornya dan jalan.

No comments:

Post a Comment