Rumahnya besar sekali. Gumamku dalam hati ketika kami sampai di depan pagar yang terbuka secara otomatis. Aku pun segera membuka pintu dan turun dari mobil tersebut. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Ratih menarik tanganku pelan, mengajakku untuk segera memasuki rumahnya.
“Bi mina”teriaknya kepada pelayan dirumah itu
Bi mina pun dengan sigap menghampiri kami yang kini sudah berada di ruang tengah.
“tolong kamu antar dia untuk mandi. Ambilkan pakaian di lemari putri apa saja buat dia” sambil menunjukku dan mendorong badanku sedikit untuk mau menghampiri bi mina. Aku pun mengikuti langkah bi mina menuju kamar mandi yang letaknya ada di kamar atas.
Setelah aku selesai membersihkan badan. Aku keluar dengan berbalut handuk putih yang menutupi tubuhku dari dada hingga lutut. Bi mina menghampiriku dan menyodorkan sebuah baju berwarna biru dengan bandana hitam. Aku pun kembali ke kamar mandi untuk mengenakan baju yang telah di berikan oleh bi mina. Setelah selesai merias diri seadanya. Aku membuka pintu kamar dan mencoba melangkah keluar menuruni anak tangga satu persatu seraya melihat lihat sekeliling keadaan rumah megah ini.
Aku pun sampai dibawah, tiba tiba seorang pria dengan tinggi hampir 180cm mengenakan kaos putih polos dengan celana jeans hitam menepuk bahuku dari arah belakang.
Aku pun teriak. Kaget.
“kamu siapa” tanyaku dengan muka pucat
“yee lo bella kan. Dicariin mama tuh di teras belakang” ucapnya setelah itu berjalan tanpa memperdulikan aku.
Aku berjalan kearah belakang rumah dan mendapati ibu ratih sedang duduk bersantai di dekat kolam renang. Ia pun sepertinya melihat kehadiranku. Dan segera melambaikan tangannya menyuruhku menghampirinya.
Aku segera mengambil posisi duduk disampingnya sambil menatap kolam renang yang cukup luas.
“kamu cantik pakai baju sama bandana itu” pujinya sambil menatapku tersenyum.
Tiba tiba aku merasakan kasih sayang seorang ibu yang secara tidak langsung ada pada diri ratih yang ditujukan untukku. Aku pun hanya tersenyum saat ia memujiku. Aku pun mulai memberanikan diri untuk menanyakan hal hal yang belum aku ketahui.
“maaf bu sebelumnya. Kenapa ibu mau mengajak saya untuk tinggal disini” tanyaku penasaran sambil memainkan jari jari mungilku.
“saya nggak tega ngeliat perempuan sendirian dijalan apalagi batin saya bilang kalau kamu sedang dalam kondisi yang nggak memungkinkan untuk pulang”tegasnya kepadaku.
Glek! Betapa mulianya hati ibu ini ujarku dalam hati.
Lalu aku penasaran dengan pemilik baju yang sekarang aku kenakan.
“ehmm, kalau baju ini kepunyaan siapa? Tadi saya dengar ibu menyebut nama putri? “selidikku ingin tahu sambil mengangkat sedikit baju yang aku kenakan.
Ratih terdiam sejenak. Kemudian melanjutkan jawaban atas pertanyaanku tadi.
“putri itu anak saya yang kedua. Sekarang mungkin sebaya sama kamu bella.”
“kok sekarang? Atau… “ aku mulai mengerti maksud perkataan ratih
“tiga tahun yang lalu dia meninggal akibat sakit liver akut. Saya sudah pasrah ketika itu dengan keadaan putri dan akhirnya putri sekarang bisa beristirahat tenang disana, tanpa rasa sakit.
Aku termenung mendengar jawaban dari ratih. Sepertinya aku telah mengingatkan memory pahit itu lagi kepadanya. Bodoh!
“udah nggak apa apa kok bel. Santai aja” timpalnya lagi.
Mendengar perkataan itu aku sedikit lega. Kemudian terlintas rasa penasaranku terhadap pria yang tadi mengagetkanku tanpa rasa bersalah.
“bu, kalau boleh Tanya lagi anak laki laki yang pakai kaos putih itu siapa?
“oh itu. Namanya Bagas. Kenapa kamu naksir sama dia ya?. Hayoo” ujarnya sambil melirikan matanya menggoda.
“haha apaan sih bu. tadi dia ngagetin saya abis itu ngeloyor pergi gitu aja.”jawabku setengah bercanda
“oh dia emang anaknya begitu. Suka bercanda kadang kelewatan tapi lebih kebanyakan cueknya.”ucap ratih menjelaskan
Aku hanya dapat berkata “oh”
Kalau dilihat memang, bagas itu tipe pria yang disukai banyak wanita. Aku pun untuk pertama kali melihatnya merasa ada ketertarikan. Kulitnya putih, tinggi, badannya tegap, tanpa noda jerawat satupun di wajahnya. Rambutnya hitam sedikit ikal, Hidungnya mancung. Ya pasti wanita seumuranku kalau melihat pria seperti bagas akan menjerit histeris.
Tiba tiba telapak ratih melambai lambai tepat di depan wajahku.
“hayoo ngelamunin siapa?” ucapnya sambil tertawa kecil
“nggak kok bu. Hehe” jawabku malu
“oh ya, kamu pasti belum makan. Ayo kita ke ruang makan. Muka kamu juga udah pucet tuh.” Ajaknya sambil menarik tanganku bergegas ke dapur.
No comments:
Post a Comment