Aku sudah sampai di depan café. Kulangkahkan kaki satu persatu. Aku terlihat seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup. Aku menuju ruang belakang, niatku ingin mengganti pakaianku dengan seragam kerja pelayan café namun ketika aku ingin menghampiri pintu kamar ganti, seorang pelayan senior menatapku tajam. Aku pun sedikit menunduk.
“bella buat apa kamu kesini lagi. Kamu belum tahu kalau sekarang kamu sudah tidak bekerja lagi disini?”ucapnya sedikit sinis.
Glek! Aku menelan ludah.
“oh begitu yah bu. Maaf saya permisi pulang.” Jawabku sambil melangkahkan kaki keluar.
Benar benar kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidupku seakan akan tidak pernah bosannya menghampiriku yang sebatang kara ini. mungkin ini karmaku karena telah menjahati amel. Ya aku memang jahat. Sekarang aku tidak tahu keberadaan amel. Sms maupun panggilan teleponku kepadanya tidak pernah di gubris. Aku kembali menuju kost-an, masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku diatas kasur. Aku memutar otak. Sekarang aku harus cari pekerjaan baru. Aku menyiapkan berkas berkasku ke dalam sebuah map berwarna merah. aku berjalan keluar kost-an. Menaiki angkutan umum. Berkeliling mencari pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain. Langkahku sudah letih. Seharian aku melamar pekerjaan tapi hasilnya nihil. Sampai malam pun tiba aku masih berjalan kaki menyusuri luasnya ibu kota. Aku sudahi untuk hari ini. aku kembali pulang menuju ke kost-an. Aku membuka pintu pagar dan menutupnya kembali. Langkahku terhenti saat seseorang memanggilku dari arah belakang. Ia menghampiriku.
“udah lama gue nunggu lo bell. Darimana aja malem malem gini baru pulang?” Tanya seseorang itu menatapku dari jarak jauh,
Aku berjalan menjauhinya. “bukan urusan kamu.” Balasku seraya mempercepat langkah kakiku menuju kamar. Aku tidak memperdulikan orang itu.
Aku menutup pintu dengan kasar. Aku melemparkan map yang seharian ini setia menemaniku ke lantai.
“buat apa bagas kesini. Pasti dia senang melihat persahabatanku dengan amel hancur semudah itu Cuma karenanya. Aku benci bagas. Titik! “
Aku menjatuhkan tubuhku dikasur dan berusaha memejamkan mata.
Paginya aku terbangun. Kantung mataku sedikit membesar. Mungkin aku keletihan. Aku menatap ke cermin. Wajahku sedikit pucat, tubuhku kini terlihat lebih kurus dibanding hari hari sebelumnya. Aku membuka pintu perlahan, mendelik ke kamar bekas amel. Terlihat seorang perempuan sedang asik membaca sebuah majalah yang menutupi separuh wajahnya. Ia menyadari kehadiranku. Lalu tersenyum menatapku.
“hai.. “ sapanya seraya berdiri menghampiriku yang berada di luar pintu.
“ehm, udah tinggal disini dari kapan?”tanyaku penasaran.
“ooh. Kemarin siang. Eh iya, kenalin nama gue tata.”ujarnya sambil mengulurkan tangan kanannya ke arahku.
Aku menjabat tangannya.”bella. kamu kuliah juga ta?.”
“tahun depan baru masuk kuliah. Cuti setahun dulu bel. Hehe.”
“oh gitu. Udah mulai hafal daerah sekitar sini?” tanyaku asal.
“sedikit sedikit sih. lo mau ngajak gue jalan nih ceritanya?” tawanya memecahkan suasana datar.
Aku pun tersenyum. “boleh. Tapi jangan sekarang yah. Lagi sibuk cari kerja nih.”
“oh lo lagi butuh kerja bell? Kayaknya ada nih. Ya kali aja lo diterima. Nggak usah pake ijasah ijasahan lah. Mau nggak?” tanyanya memancarkan wajah ramah.
Aku merenung.
“ikut gue nanti malem yah.” Ujarnya sambil menepuk bahuku pelan dan masuk kembali ke kamarnya.
No comments:
Post a Comment