Monday, 11 October 2010

chapter 24

Malam ini aku berada di sebuah mall. Aku lapar sekarang. Perutku juga sedari tadi merintih ingin di isi. Aku menuju ke sebuah food court. Aku memesan beberapa menu dan aku mulai mencari tempat duduk. Sial! Kenapa aku harus bertemu bagas disini. Bagas sudah terlanjur melihatku dan berusaha menghampiriku. Aku sedikit menghindar darinya dan berjalan ke luar arena food court, makanan yang telah aku pesan pun aku hiraukan. Aku benci melihat bagas! Langkah kaki pun sudah aku percepat namun tiba tiba tanganku berhasil di raihnya. Aku ingin berteriak, tapi aku iba melihat wajahnya yang sedikit pucat dan tubuhnya yang lunglai. Kalau aku teriaki maling pun aku tidak tega melihatnya dipukuli orang. Kali ini aku mengikuti langkah kakinya menuju parkiran mobil. Aku masuk ke dalam mobil. Kenapa aku tiba tiba mau mengikuti perintahnya. Aku seperti di hipnotis. Kami sekarang berdiam diri di dalam mobil. Bagas mulai menatapku. Tatapannya seperti berharap. Aku memberanikan membalas tatapannya.

“kamu kenapa gas. Kelihatan letih banget kayaknya.”ucapku iba.

Sial! Kenapa sekarang aku memberikan perhatian kepada pria ini. bagas belum mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, ia masih menatapku dalam dalam.

“aku keluar yah dari mobil. Aku mau pulang udah malem.” Ucapku sekarang sedikit membentak.

Tanganku dipegang olehnya.

“bell gue nggak mau jauh dari lo. Gue nggak mau lo ngebenci gue. Jangan sangkut pautin masalah lo sama nyokap gue. Ini soal hati bell. Gue tersiksa. Gue sakit. Bukan sakit yang bisa disembuhin pake obat. Gue Cuma butuh perhatian lo dan rasa sayang balik lo ke gue. Itu cukup.”

Mataku berkaca kaca seperti halnya bagas, namun aku tidak bisa membendungnya. Aku meneteskan air mata. Aku benci situasi ini. aku benci mengatakan kalau aku sayang sama bagas. Aku benci mengatakan aku nggak mau kehilangan bagas. Bagas mendekatkan wajahnya dan mencium keningku. Aku hanya bisa terdiam.

No comments:

Post a Comment