Monday, 11 October 2010

chapter 25

Saat aku sedang sibuk bekerja. Ponselku berdering cukup lama. Dengan segera aku mengambilnya dari saku dan melihat nama yang tertera di layar. ‘indra’

“halo ndra.. ada apa?”

“pulang kerja gue jemput yah. Kita ke rumah sakit.”ucapnya buru buru

“siapa yang sakit?”tanyaku ingin tahu.

Tut . . .tut…tut

Belum sempat pertanyaanku dijawab, indra sudah memutuskan panggilannya. Aku jadi resah. Siapa yang berada dirumah sakit sekarang.

Indra sudah menungguku diluar. Aku segera menghampirinya dan memasang helm di kepala. Motorpun melaju dengan cepat. Sampailah kita disebuah rumah sakit. Indra terlihat sangat tergesa gesa menarik tanganku untuk mempercepat langkah kaki. kami berada di depan pintu kamar nomor 112. indra membuka pintunya. Aku kaget melihat siapa yang terbaring di kasur itu.

“Tata” ucapku tak percaya.

Indra duduk di kursi yang letaknya dekat dengan selang infuse.

“tata kenapa ndra?” tanyaku dengan suara pelan.

“tata overdosis. Dia ternyata ketergantungan sama obat.” Jawabnya sambil menunduk.

Aku melihat wajah indra. ia sepertinya terpukul atas kejadian ini. atau indra punya rasa terhadap tata? Ah perduli apa aku tentang perasaan indra. itu haknya.

Pintu terbuka. Seorang suster menghampiri tata yang masih terbaring dan mengecek kondisinya.

Indra sekarang menatapku.

“bell. Udah malem! Lo mau pulang? Biar gue anter”

“kamu sendiri ndra?”

Indra terdiam. Aku mengerti jawabannya

“yaudah aku pulang duluan yah ndra. Kamu disini aja jagain tata. Bye! “ujarku sambil membuka pintu dan berjalan keluar.

Sekitar pukul 9 pagi aku menyambangi kamar indra, berharap dia ada di dalam. Aku mngetuk pintu.

Satu menit..

Dua menit..

5 menit..

Aku menunggu diluar. Namun tetap tidak ada yang membukakan pintu. Anto yang berada di samping kamar indra membuka pintu kamarnya dan menoleh ke arahku.

“eh bell… pasti nyari indra yah. dia belum pulang dari semalem. Kemana sih tuh anak.” Ucapnya sambil menutup pintu kamarnya dan menghampiriku.
”lah kamu nggak tahu ton, indra nemenin tata di rumah sakit. Aku kira udah pulang dari semalem ternyata belum yah?”tanyaku balik

“tata? Anak kost baru yang kerjanya di clubbing jadi sexy dancer itu?”

Aku pun menggangguk. Ternyata indra belum banyak cerita kepada anton soal tata.

Anton kebingungan dan berucap lagi. “indra kan alim. Masa mau deket deket sama cewek kayak gitu. Gue sih mending deketin lo bell. hehe”

“haha kalo indra alim emang kenapa. eh yaudah deh aku tinggal yah ton ke atas. “ ucapku meninggalkannya. Aku tiba kembali dikamarku. Ada inbox baru di ponselku. Tertera nama ‘indra’. aku memencet tombol ponselku, membuka isi pesan tersebut.

bell sorry nggak bisa nganterin pulang semalem. Kondisi tata sekarang makin kritis. Orangtuanya udah dateng pagi ini buat ngejenguk. Minta doa buat kesembuhannya yah bell J

Oh ya ada yang belum gue ceritain ke lo bell. Lo bisa ke rumah sakit hari ini kan? Gue tunggu jam 10 pagi.

Aku pun bergegas melihat jam di dinding. Sekarang pukul 10.20. indra pasti sudah menungguku. Aku berangkat menuju rumah sakit, anton mengantarku ke sana. Kami berdua segera mencari kamar tempat tata dirawat dan membuka gagang pintunya.

Aku melihat sosok indra masih duduk di samping ranjang tata. Indra sedang tidur. Anto yang sedikit jahil mendekati indra dan melepas kaos kaki yang ia gunakan, mendekatkannya ke hidung indra.

“apaan nih.” Ucapnya saat bangun dan menatap kami kaget.

“sialan lo ton.”

“haahahaha….”

“eh sorry yah ndra baru bisa dateng sekarang.”ucapku mencairkan suasana.

“its ok bell” jawabnya sambil tersenyum.

Aku mendekati tata dan menatap wajahnya yang pucat. Ia kini benar benar tidak berdaya.

Aku beralih menuju indra yang sedang mentap ke arah jendela. Sedangkan anton masih sibuk menggunakan kaos kakinya kembali.

“ndra katanya ada yang mau kamu omongin?” tanyaku pelan.

“ehm, sebenernya ada alasan kenapa gue begitu perhatian sama tata. karena…”

“karena apa…”selidikku ingin tahu.

Anton sepertinya mendengarkan pembicaraanku dengan indra dan mencoba menerka. “jangan bilang tata itu mantan lo ndra.”

Indra mengangguk dan aku terhenyak.

“lo masih ada perasaan sama tata ndra?” Tanya anton yang kini mendekati indra.

Indra hanya memberi isyarat menggelengkan kepala.

Aku hanya duduk terdiam.

“terus sekarang namanya apa?” tambah anton.

“coba lo liat kondisi tata sekarang.” Ucapnya geram.

Aku melangkahkan kaki ku keluar ruangan itu meninggalkan anton dan indra yang masih berkelahi argument. Ah! Aku tidak mau terlibat masalah seperti ini. pikiranku sekarang kembali ke kost-an.

No comments:

Post a Comment