Monday, 11 October 2010

chapter 27

Ponselku berdering kencang. Membangunkan tidurku yang pulas. Aku meraba area sekitar kasurku dan mencoba menemukan ponselku. Indra menelepon.

“halo bell…” ucapnya sesuggukan.

“ada apaan ndra?” tanyaku sedikit panik.

“lo siap siap ke makam, kemarin malem tata menghembuskan nafas terakhirnya. Sekarang gue sama keluarganya lagi dalam perjalanan menuju makam. Gue tunggu lo yah bell.” Telepon diputus oleh indra.

Glek! Tata meninggal? Aku terhenyak sesaat. Aku baru mengenal tata kurang dari seminggu. Aku belum sempat akrab dengannya bahkan waktu itu aku sedikit membentaknya karena menolak ajakannya bekerja. Aku tahu niat dia baik. Maafin aku ta. L

Aku yang di temani anton akhirnya sampai di pemakaman. Kami menghampiri rombongan dari keluarga amel. Mengikuti langkahnya sampai ke tempat lubang peristirahatannya. Kini tata sudah tertutup oleh tanah. Aku melirik kearah indra yang merasa terpukul atas kepergian tata. kini kamar kost-an itu sepi kembali tanpa penghuni. Selamat jalan tata.

Sebulan setelah kepergian tata, indra sepertinya mulai terbuka kembali. Aku dan indra sekarang banyak meluangkan waktu untuk sekedar bercanda ataupun bercerita seperti biasa.

“ndra. Mau cerita apa lagi nih” tanyaku sambil menepuk bahunya.

“lo masih inget kan bell waktu gue cerita lagi naksir sama seseorang?”

“inget kok. Kamu cerita suka sama anton kan?” ledekku bercanda.

“dih kapan ngomong kayak gitu. Woo bella haha” tawanya.

“ ya ya inget kok. Tapi itu udah agak lama kan. Emang masih naksir sama cewek itu?” selidikku.

Indra mengangguk. “tahu nggak bell. Sekarang gue mulai bisa ngeliat dia setiap hari. Natap matanya yang indah. Bahagianya gue bell.”

Haha berlebihan kamu ndra. Jadi pengen tahu cewek yang dimaksud kamu. Kasian yah ceweknya ditaksir sama indra. pasti apes tuh hidupnya.”candaku sambil tertawa geli.

“awas lo yah bell. Gue kelitikin nih.”ujar indra dengan posisi jari menghampiri pinggangku untuk memulai aksinya.

“hahahaha ampun ndra. Udah udah. Geli banget. Hahaha iya nyerah deh”.

Ponselku berdering. Aku merogohnya dari saku celana. Bagas menelepon. Aku mengangkat tanpa ragu.

“hai bell. Gue udah di depan kost-an nih. Keluar dong. Gue mau ngajak jalan. Buruan.” Telepon pun diputus. Dasar bagas, sifatnya kembali lagi ke habitatnya. Datang tiba tiba dan sekarang ngajak jalan se enaknya. Fiuh.

“siapa bell?” Tanya indra

“bagas. Aku pamit dulu yah ndra. Dia nunggu di depan kost-an katanya.”

“yaudah gih bell. Kasihan nanti nunggu lama.

Aku pun melangkahkan kaki keluar meninggalkan indra. bagas sudah berdiri di depan pagar. Aku menghampirinya dengan terburu buru.

“kan bisa bilang bilang dulu sebelumnya kalau mau kesini. Kebiasaan deh.” Ucapku sedikit kesal.

“ayo ke mobil buruan.” Pintanya.

Aku menutup pintu pagar dan melihat indra dari kejauhan. Ternyata Indra memperhatikanku dari tadi. Aku memalingkan muka menuju mobil bagas.

Mobilpun melaju.

Kami sudah sampai di sebuah studio musik. Bagas menggandeng tanganku menuju ke sebuah ruangan. Disana beberapa pria seumuran bagas sedang sibuk memposisikan beberapa alat musik.

“aku kenapa dibawa kesini gas.”

“gue inget suara lo yang 51 point itu bell. Sekarang mau gue rekam.”

Aku terdiam.

“yee gue pengen denger suara lo sebelum tidur bell. Ayo buruan siap siap ke tempat rekaman.” Ujarnya cengengesan sambil mendorong badanku masuk ke sebuah ruangan.

Hah? Nggak salah? Aku masih terheran heran dengan ucapan bagas yang tadi.

Kami selesai sampai pukul 4 sore. Aku dan bagas menuju ke mobil. Bagas memancarkan wajah gembiranya sedangkan aku cemberut.

“kenapa sih bell.. muka di tekuk gitu?” tanyanya ketika didalam mobil

“gimana aku nggak kesel. Hari ini aku jadi bolos kerja. Ini gara gara kamu gas.”

Terus kenapa…?” tanyanya cuek.

“kalau aku sampai di pecat aku mau kerja apa?”ucapku mengheningkan suasana. Bagas terdiam. Dan menjalankan mobilnya.

No comments:

Post a Comment