Oh ya! Aku ada jadwal kuliah hari ini. matilah. Sekarang sudah pukul 8 pagi sedangkan jam pertama dosennya hadir setengah 9. kampusku memang tidak terlalu jauh dari kost-an, namun kalau menaiki kendaraan umum harus memutar jalan sekitar 1 jam. Aku bergegas bersiap siap dengan waktu yang sangat minim. Aku mengunci pintu kamar dan menuruni anak tangga. Ku buka pintu pagar dan menutupnya kembali. Melangkahkan kaki ke tepi jalan untuk menunggu angkutan umum yang lewat. Sebuah mobil berhenti di dekatku tapi bukan mobil angkutan, kini pemilik bmw membuka kaca mobilnya dan menoleh kea rah luar.
“bell.. mau kemana? Buruan masuk nanti gue anterin.”
Aku membuka pintu mobilnya tanpa ragu dan duduk manis di kursi depan.
“anterin aku ke kampus bisa nggak gas? Udah telat soalnya. Hehe.” ucapku malu.
“siap tuan puteri.”
Mobilpun meluncur kekampus. Aku turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada bagas. Aku menuju ke kelas dan menoleh kea rah jam tanganku. Sial! Aku masih telat juga ternyata. Aku memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk.
Glek! Ternyata dosennya belum hadir. Aku sudah hampir dibuatnya mati mendadak. Bukannya aku berlebihan, tapi bila tertinggal satu hari mata kuliah yang di ajar dosen ini jangan harap nilai kalian bisa B. “hari ini kita di beri tugas dan harus dikumpulkan sekarang.”kata itu yang aku dengar dari ketua kelas. aku menduduki kursiku dan merogoh saku celana jeans untuk mengambil ponsel. Kulihat tertera nama bagas pada inbox pesan. Aku membuka dan membacanya.
“gue masih nunggu di parkiran. Kalau lo udah selesai cepetan kesini yah. Hehe.”
Dasar bagas! Tingkah lakunya aneh. Kurang kerjaan banget dia nungguin aku. Ah aku langsung memasukan ponselku kembali ke dalam saku dan mulai mengambil buku diktatku mengerjakan tugas yang harus segera diselesaikan.
Aku menuju ke parkiran dan mendapati mobil bagas masih terparkir. Gila. Dia benar benar masih disana. Gumamku dalam hati.
Aku mengetuk pintu kacanya pelan dan bagas dengan segera membukanya.
“gas, kurang kerjaan banget kamu! Emang nggak ada yang dikerjain lagi selain ini?”
“gue kan lagi ngejalanin tugas. Nungguin tuan puteri bella. Haha ayo masuk ke dalem. Panas banget kampus lo padahal gue udah pasang ac.
“sial. Haha” aku pun bergegas masuk ke dalam.
“sekarang ke food court yuk. Laper gue”
Aku pun mengangguk. Setelah hampir setengah jam perjalanan dari kampus. Kami sampai di sebuah mall dan langsung berjalan ke tempat tujuan semula.
Setelah kami selesai makan, bagas mengantarku pulang ke kost-an. Aku menawarkannya untuk mampir sebentar ke dalam. Bagas mengangguk dan mematikan mesin mobilnya. Kami berpapasan dengan indra.
“hai ndra.”sapa
Indra hanya menatapku tersenyum, sesekali melihat kearah bagas yang sedari tadi berdiri disampingku.
Aku dan indra menaiki anak tangga, sampailah kita di atas. Aku menyuruh bagas untuk menunggu di dekat balkon. Aku membawa dua cangkir kopi menghampiri bagas.
“wah bella nggak waras. Masa siang siang gini dikasih kopi. Haha” ucapnya sambil tertawa.
Aku membalikan tubuhku kembali menuju kearah kamar.
“eh eh mau kemana bell? yaudah siniin kopinya. Dasar nggak berubah yah. Masih jadi tukang ngambek aja.”tukas indra yang langsung menyeruput kopi buatanku.
“haha biarin ah. Masih mending dibuatin minuman. Maklum anak kost gas. Adanya Cuma itu.”balasku sambil menyeruput kopiku.
Kini kopi di masing masing cangkir habis.
Indra menatap pemandangan yang terlihat dari atas balkon. Kini ia duduk di lantai dan menatapku yang berada di kursi kayu.
“eh bell. Tadi yang papasan sama kita dibawah siapa?”
“oh itu indra. kenapa. Kamu naksir gas?”ucapku setengah bercanda.
“yee parah. Masih normal kali gue. Buktinya kan gue sukanya sama lo. Tapi lo nya nggak ngerespon. Ckck. Jadi sekarang kita HTS-an nih bell ceritanya. Haha”ucapnya sedikit tertawa.
Aku menunduk mendengar sindiran bagas barusan.
“aku kan belum mengiyakan dan belum mentidakkan juga gas.”
“Jadi jawabannya kapan dong bell.”kali ini bagas serius.
Aku menoleh ke arah jam tanganku. “gas. Aku mau siap siap kerja nih. Makasih banyak buat hari ini yah.”
“gue anterin lagi deh bell. Yah yah” Ucap bagas manja.
“nggak usah. Kamu sekarang pulang abis itu istirahat. Aku berangkat sendiri aja. Okeh.” Balasku. Kemudian aku mendekatkan diriku dan mencium pipi kanan bagas. Wajahku dan wajah bagas terlihat sama sama memerah. Aku mendorong pelan tubuh bagas untuk turun ke bawah. Tangan bagas menarikku pelan, menghentikan langkah.
“bell…”
“apa lagi?”tanyaku sedikit heran.
“yang kiri minta dicium juga nih.”
Aku menepuk pipi kirinya pelan.”dasar.. pulang gih.”
Aku pun mengantarkan bagas sampai di depan pagar kost-an. Aku melambaikan tanganku saat mobil bagas mulai melaju pelan meninggalkanku. Aku masuk ke dalam dan menutup pintu pagar. Indra sudah berada di belakangku.
“itu bagas bell?”
Aku mengangguk.
“lo sendiri kan pernah cerita ke gue kalau bagas itu salah satu orang yang lo benci. Sekarang kenyataannya? Ucapnya serius.
“semua orang punya hak untuk mengubah arah pikirannya ndra. Aku udah mikirin dengan pertimbangan aku sendiri, Kalau aku nggak boleh lama lama benci sama orang. Tuhan aja pemaaf, seharusnya aku bisa maafin dia. Iya kan?”balasku sekenanya.
Indra menatapku tajam.”lo suka kan sama bagas?”
Aku terdiam. Aku sendiri bingung harus menjawab apa.
“gue balik ke kamar yah bell kalau gitu.”indra pun tidak memperdulikan dan berjalan menuju kamarnya.
No comments:
Post a Comment