Monday, 11 October 2010

chapter 31

Aku bertemu dengan amel di café marina siang ini. ia setia mendengarkan semua ceritaku tentang bagas dan indra. aku benar benar tak tahu harus berbagi bebanku ini pada siapa lagi kecuali amel. Amel menatapku tersenyum.

“sekarang semua keputusan ada di tangan lo bell. Jangan buat mereka menunggu lama, itu Cuma buat mereka merasa di gantung perasaannya sama lo. Saran gue sih ya ikutin kata hati lo bell jangan ikutin ke egoisan lo buat memiliki mereka. Ngerti kan maksud gue bell. Cinta itu kasih sayang bukan obsesi.”

Aku tertegun mendengar saran amel.

Aku menunduk. “sekarang aku bingung mel. Aku takut menyakiti hati salah satu dari mereka.”

“biar mereka ngerasain sakitnya itu sekarang bell daripada nanti.”

“mana bella yang gue kenal. Yang nggak gampang nyerah ngejalanin masalah hidupnya. Just love life bell. It’s simple for you.” Ucap amel se

Raya memegang bahuku.

“ehm.. makasih banget mell.” Ucapku menatapnya tersenyum.

“pulang yuk. Gue anterin ke kost-an.”ajak amel.

Aku pun diantar amel kembali ke kost-an. Dan setelah itu amel kembali pergi meninggalkanku.

Di kost-an aku berpapasan dengan indra yang sepertinya berjalan kearah pagar kost dengan pakaiannya yang rapih.

“dianter sama siapa bell?” tanyanya sedikit penasaran

“sama amel tadi.”

“Oh…”indra pun berjalan mendekati pagar dan meninggalkanku dengan cuek. Jarang sekali indra seperti ini atau dia marah yah sama aku? Ah! Aku pun langsung bergegas ke kamar.

Kini aku duduk di atas kasur. Ponselku berdering, terdengar dari dalam tas. Kubuka resletingnya dan ku raih ponselku.

Bagas.

Aku mengangkatnya dengan segera.

“halo bell. nanti amel jemput lo di kost-an sekitar jam 4 sore. Jangan sampe nggak ikut ya. soalnya Darurat hehe.”

“apaan sih gas. Aku bener bener nggak ngerti maksud kamu.” Tanyaku heran.

“yaudah bye.” Tut….tut…tut teleponpun dimatikan.

Arggh.. aku sedikit kesal dengan tingkah lakunya yang aneh itu. Pasti ada yang di sembunyikan oleh bagas. Amel? Berarti amel sudah tahu rencana bagas yang mendadak ini. aku melihat jam di dinding. Sekarang pukul 3. aku bergegas mandi, setelah itu aku merias diri sebentar dan mengunci pintu kamarku menuju ke lantai bawah.

Indra dengan sengaja menarik tanganku saat aku sedang berjalan menuju arah luar. Aku menatapnya heran.

“mau kemana?”

Aku bingung harus mengatakan apa. Kalau aku bilang aku akan pergi menemui bagas, dia pasti kecewa.

“jawab bell.” Ucapnya sedikit menekan nada.

“aku mau pergi nemuin bagas.” Glek! Aku keceplosan.

“oh.. yaudah sana pergi!” ucapnya pergi meninggalkanku.

Mobil amel pun sudah terparkir manis di depan kost-an, aku langsung menghampirinya dan mobilpun melaju membawaku ke tempat yang belum aku tahu.

No comments:

Post a Comment