Aku pulang sekitar pukul 11 dari tempat kerjaku. Sesampainya di kost-an. Aku hendak mengambil kunci dari dalam tas, kakiku menyentuh sebuah kotak yang berada di dekat pintu. Aku memandang kotak itu heran dan mengambilnya perlahan. Aku memutar kunci dan membuka pintu. Kotak apa yah ini? tanyaku dalam hati.
Aku menyandarkan tubuhku di dinding kamar. Dan mencoba membuka isi kotak itu. Kulihat beberapa lembar kertas memenuhi isi kotak. Aku mengambil salah satu kertas dan mulai membacanya.
Kurang lebih tiga tahun aku memendam rasa ini. aku kenal sosok perempuan cantik yang periang di sekolahku. Mungkin dia tidak pernah mengenalku, karena menyapaku pun sangat jarang. Aku dan dia sudah tiga tahun menjadi teman sekelas. Aku tidak berani mengutarakan perasaan suka ku padanya. Sekarang tinggal menunggu beberapa bulan, kami akan berpisah. Kami akan melanjutkan ke SMA pilihan masing-masing. Aku harus ikut orang tua untuk sementara pindah ke bandung dan melanjutkan sekolahku disana, sedangkan dia? Bella Anindya. Perempuan yang setiap harinya menghiasi pikiranku walaupun aku tidak bisa memilikinya entah kemana iya akan melanjutkan. Aku pemalu. Aku tidak berani untuk menanyakan hal sepele itu? Sampai akhirnya tadi pagi aku memberanikan diri untuk mendekati tasnya saat jam istirahat kelas dan menaruh sebuah boneka teddy bear secara diam diam. Aku harap dia menyimpannya sampai aku menemukan dia kembali.
Love you bell. Hanya kata itu yang aku ingin utarakan. Aku pun terhenyak sesaat setelah membaca kertas yang ku genggam. Tubuhku seketika lemas. Indra. ternyata sekarang aku menemukan pemilik teddy ini.
Aku mulai mencari cari, mungkin di dalam kotak itu tersimpan sesuatu rahasia lagi. Aku menemukan di tumpukan kertas paling bawah ada sebuah foto. Ya! Foto yang waktu itu sempat aku lihat di kamar indra. kini foto itu diberi tanda lingkaran merah. aku melihat wajahku di foto itu yang dilingkari spidol merah sedangkan ada seseorang yang wajahnya sengaja di lingkari juga. Jangan jangan itu indra! oh tuhan. Kenapa aku baru sadar.
“lo udah tahu semua kan sekarang?” seketika suara itu mengagetkan dari arah luar. Aku memang tidak menutup pintunya.
Pria itu masuk menghampiriku yang terlihat sedang menangis.
“gue indra bell. Temen sekelas lo waktu SMP dulu. Sekarang gue jauh lebih berani kan buat bisa deket sama lo.”
Aku pun masih sesuggukan menahan tangis.
“maaf banget ndra. Aku nggak per…”ucapku belum selesai.
“nggak apa apa bell. Teddy nya masih kamu simpen nggak sampe sekarang? Kalau udah dibuang juga nggak masalah. Nggak berarti juga kan buat lo. Hehe” ucapnya sedikit bercanda.
“ehmm.. siapa bilang!” aku pun menuju lemari pakaian dan mengambil kotak pink berisi teddy dan membukanya. Menunjukan kearah indra.
“gue nggak nyangka lo masih nyimpen boneka itu bell. Makasih banget yah.”
Aku belum sempat berucap. Indra memelukku seraya mengelus rambutku yang terurai panjang.
Indra melepas pelukannya dan menatapku penuh arti.
“tuhan emang punya rencana yang indah yah bell. Tanpa diduga gue bisa ketemu lo lagi di tempat ini. di tempat yang mungkin nggak masuk akal buat manusia. Tapi itulah takdir.”
Aku hanya mengangguk sambil menghapus air mataku yang masih membasahi pipi.
“sekarang gue nggak mau nyia nyiain kesempatan emas lagi bell. Lo berarti banget buat gue. Sekarang keputusannya di lo bell. Bersedia nerima atau nolak gue. Itu aja. Biar perasaan yang hampir bertahun tahun ini terobati atas jawaban lo. Biar perasaan gue ini nggak sakit menunggu rasa penasarannya.”
Aku tertegun. Aku di posisi yang membingungkan. Aku teringat bagas dan sekarang ada indra di hadapanku. Aku mulai mencoba berpikir keras. Aku benci situasi ini.
Aku hanya terdiam beberapa menit. Aku hanya sesekali menatap mata indra yang berharap.
“aku nggak bisa jawab sekarang ndra. Maaf…”jawabku tertegun.
Indra berdiri dari posisi duduknya menuju ke luar pintu. “it’s ok bell. Kayaknya gue udah tahu pilihan lo deh. Gue balik ke kamar yah.”
“Tunggu ndra. Kamu jangan egois dong! Kasih aku waktu buat ngejawab.”
Indra mengangguk dan meninggalkanku menuju kamarnya.
No comments:
Post a Comment