Monday, 11 October 2010

chapter 4

Malam ini aku tidur di kamar bekas alm.putri. kamarnya rapih dan luas. Banyak boneka teddy bear yang tertata di atas lemari dan dibawah spring bed. Ehm, ternyata kesukaanku dengan putri sama, aku juga sempat mengumpulkan teddy di kamarku. Jadi teringat teddy pertama yang aku punya dari seorang penggemar rahasia waktu aku duduk di bangku sekolah dasar pertama. Dia menyelipkan teddy itu di tasku. Aku pun baru menyadarinya ketika pulang sekolah. Dan sampai sekarang aku belum tahu siapa pemilik teddy yang memberikannya itu kepadaku. Oh ya, aku tetap simpan teddy bear itu di sebuah kotak berwarna pink berpita. Tapi sekarang aku tinggalkan dirumahku. Huh! Berarti aku harus kembali kerumah itu.

Tok..Tok..Tok..

“Ah siapa yah yang mengetok pintu”tanyaku sambil bergegas bangun dari tempat tidur.

Kubuka pintu itu perlahan dan kudapati seorang pria mengenakan kaos hitam bergambar sonic sudah berdiri bersandar di dinding dekat pintu kamar.

“eh bagas” ucapku terbata. Ngapain yah dia nyamperin ke sini.

“ehm.. oh udah tahu nama gue? Baguslah jadi nggak usah basa basi kenalan lagi”jawabnya cuek

Glek! Orang ini dateng dari planet mana yah. Jawabannya sekena dia, bener bener cuek. Pikirku.

“iya teruss kesini ada apa”jawabku sedikit kesal

“gapapa iseng aja gue. Ke bawah yuk. Lo bisa nyanyi kan?”

Tanpa menunggu jawaban yang terlontar dari bibirku, dia sudah menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya.

Sampailah kita di teras belakang. Dia mengambil sebuah gitar yang bersembunyi di balik kursi. Aku pun duduk disampingnya masih dengan ekspresi heran. Orang ini maunya apa sih.

“oke. Lo bisa nyanyi lagu more than words kan” ujar bagas sambil memetikan jarinya pada senar gitar.

Aku pun hanya mengangguk.

Bagas memulai mengambil posisi jari pada kunci G dan memainkannya

saying I love you

is not the words I want to hear from you

it’s not that I want you

not to say but if you only knew

how easy……

Setelah aku selesai menyanyikannya, bagas langsung berekspresi bak juri kontes ajang mencari bakat.

“suara lo bagus juga” pujinya

Wajahku langsung memerah setelah mendengar pujian dari bagas walaupun hanya beberapa kata.

“makasih gas”jawabku sambil menggaruk kepala.

“ehm.. gue kasih nilai deh! 0 sampai 100. nilai lo 50”jawab bagas sambil tertawa geli.

“ih apaan sih”ekspresiku langsung tak bergairah

“ya ya gitu aja ngambek. Dasar cewek! Gue kasih bonus nilai khusus buat lo. Tadi kan 50 sekarang gue ubah jadi 51. puas kan?” jawabnya sambil tertawa.

“haha terserah kamu deh”jawabku males malesan.

Tanpa memperdulikannya aku kembali masuk ke dalam lalu menaiki anak tangga dan masuk ke kamar, mengunci pintu.

Kubaringkan tubuhku di atas kasur yang empuk ini. Sambil memikirkan hal yang barusan saja terjadi antara aku dan bagas.

“Sumpah yah. Kalau di dunia semua orang sifatnya kayak bagas bisa bisa aku setres. Bercandaannya garing banget. kelakuannya aneh. Dasar manusia setengah alien“ucapku kesal sambil memejamkan mata.

Beberapa menit aku pun sudah terlelap

No comments:

Post a Comment