Monday, 11 October 2010

chapter 32

Kami tiba di sebuah bandara. Yah bandara. Tempat dimana orang orang bepergian jauh menggunakan pesawat terbang. Siapa yang ingin pergi? Tanyaku dalam hati.

Aku mengikuti langkah amel. Seketika langkahku terhenti saat melihat sosok pria yang ku kenal membawa beberapa koper besar. Ya. Dia bagas.

“ayo bell… tuh bagas udah nungguin.” Amel menarik tanganku.

Aku pun mengikutinya menghampiri bagas. Kulihat ratih berada disampingnya. Aku sedikit memalingkan muka. Ratih pun sedikit menunduk. Mungkin ratih masih merasa bersalah.

“hei bell..” sapa bagas kepadaku

“mau kemana kamu gas?” tanyaku ingin tahu.

“ehmm..” bagaspun mendekatkan tubuhnya ke arahku.

“sorry bell. Gue nggak bilang bilang dulu sebelumnya. Sebenarnya, gue mau pergi ke inggris untuk beberapa tahun sampai gue sarjana nanti.” Ucapnya yang membuatku kini ingin menangis.

“terus aku gimana gas?” ucapku sedih.

“lo mau kan nungguin gue bell. Nanti gue janji bakalan kabar-kabarin lo lewat email, nelpon lo tiap malem. Semampu gue.”

Aku menangis. Aku menyadari kini aku mencintai bagas saat dia ingin pergi jauh. Aku menyia nyiakan saat saat bagas masih bisa dekat denganku.

Bagas mencium pipiku mesra. “bell gue janji gue bakal setia. lo janji yah bakal setia juga nungguin gue sampai pulang lagi ke Jakarta.”

“iya gas. Aku sayang kamu.”

“makasih bell. Gue lega denger ucapan itu.”

Kini bagas melepasku, mengarah ke amel.

“mel, gue nitip bella yah. Jangan digalakin. Awas lo.” Ujarnya sedikit bercanda.

“haha nggak lah. Santai aja.”

Bagas pun melangkahkan kakinya seraya menyeret koper besar itu menuju pintu masuk. Kami pun melambaikan tangan dari arah luar kaca.

Amel mengantarku kembali ke kost-an dan ia menemaniku malam ini dikamar.

“kayaknya gue udah tahu nih pilihan lo.”

Aku hanya mengangguk.

“nah sekarang tugas terakhir lo bell, lo jujur sana bilang ke indra soal perasaan lo sama dia. Soal perasaan lo sama bagas. Buat dia mengerti.

“iya mel. Anterin gue ke kamar indra yuk.”

Kami berdua pun menuruni anak tangga, aku berjalan menuju kamar indra. sedangkan amel hanya mengantarku sampai di ujung anak tangga.

Aku mengetuk pintu kamar indra. tidak ada sahutan dari dalam. Tiba tiba anton membuka pintu kamarnya.

“eh bella. Emang nggak tahu yah indra udah pindah kost-an tadi sore?”

Glek! Aku pun tercengang.

“haha nggak ada lagi deh sohib ngobrol gue sekarang. bakalan sepi nih kost-an.” Tambah anton.

Aku hanya tersudut. Berdiam diri. Aku sangat merasa bersalah. Aku menyakiti hati indra sekarang.

“eh iya.. “ ucap anton lagi sambil menepuk keningnya. Ia masuk ke dalam kamarnya dan keluar lagi membawa sebuah amplop.

Anton menghampiriku dan menyodorkan amplop itu tepat ke arahku.

“nih bell sebelum indra pergi. Dia nitipin ini ke gue. Dia minta gue ngasihin ini ke lo. Belum sempet gue buka kok. hehe” ucap anton.

“makasih yah ton. Aku balik ke kamar dulu.”

Aku pun bergegas menuju tangga, amel masih menungguku disana. Kami berdua menuju balkon. Aku duduk di sebuah kursi kayu dan mencoba membuka isi amplop tersebut.

“apaan itu bell?” Tanya amel melihatku.

“dari indra mel. Dia mendadak pindah kost-an.” Aku sedikit terhenyut.

“ohh… indra kayaknya udah ngikhlasin lo sama bagas deh.” Amel pun memandangi pemandangan di atas balkon.

Aku mengambil sebuah kertas yang dilipat di dalam amplop tersebut. Aku mulai mengarahkan mataku pada sebuah tulisan yang ditulis menggunakan tinta hitam.

“bella… mungkin saat lo baca surat ini, gue udah pergi jauh. Lo nggak perlu susah susah nyariin gue. Gue sekarang tersenyum bangga melihat lo akhirnya bisa deket sama bagas. Gue seneng lo akhirnya ikhlas ngebuang perasaan benci lo terhadap seseorang. Gue bangga sama lo bell.

Oh ya gue Cuma mau nitip satu hal bell. Kalau nggak keberatan lo tetep simpen teddy pemberian gue yah. Anggep aja boneka itu salah satu tanda persahabatan kita. Gue beruntung bisa kenal sama lo bell.

Indrawan hari putra

Aku menangis. Air mataku jatuh membasahi kertas. Kini aku harus kehilangan indra. indra yang setia menemaniku di saat aku sedang butuh seseorang. Berbagi cerita berbagi tawa. Indra yang selalu menyemangatiku untuk tetap tegar menjalani hidup. Aku bodoh! Mungkin perasaanku terhadapnya hanya sebatas pertemanan tapi batinku mengatakan indra adalah sosok orang yang membuatku nyaman berada di dekatnya.

Aku menggengam kertas itu erat. Amel menghampiriku dan memelukku seraya membelai lembut rambutku.

“sekarang udah tahu kan endingnya bell.”

Aku pun masih menangis. Indra maafin aku.

No comments:

Post a Comment