Monday, 11 October 2010

chapter 5

Paginya aku dibangunkan oleh suara ketukan pintu dari arah luar kamar. Sambil mengucek mata aku menghampiri pintu dan membukanya. Kulihat bi mina sudah berdiri di depan pintu mengajakku untuk sarapan.

“jam berapa bi mina?”tanyaku pelan

“jam 8 pagi non”balasnya.

Sesampainya di ruang makan, aku mendapati sosok ratih dan bagas sudah duduk manis di meja makan. Hari ini bagas terlihat lucu, mungkin baru bangun tidur seperti aku wajahnya pun masih kucel. Rambutnya sedikit berantakan.

“woy cewek ambekan. baru bangun lo”ucap bagas sambil melahap satu sendok penuh nasi goreng.

Aku menghampiri kursi dan segera duduk.

“apaan sih gas”balasku ikutan cuek

Ratih pun melihat kita berdua secara menatap berganti-gantian.

“kalian berdua ada apa sih. Ehem ehem”tanyanya selidik.

“itu ma, kemaren kan bagas suruh dia nyanyi. Bagas kasih nilai malah ngambek”

“terus….? ”Tanya ratih kembali penasaran

“ya gitu deh. Tanya aja ama anaknya”dengan kondisi mulut penuh nasi goreng.

“oh. Dasar anak muda. Mama nggak ikutan deh. Kalian udah mulai akrab nih kayaknya! Bagus deh kalau gitu ”ucap ratih sambil pergi meninggalkan kami berdua.

“maa… nanti jam 9 aku ada mata kuliah. Pake mobil yah” teriaknya

“iya iya” jawab ratih samar samar.

Beberapa menit kemudian bagas pun meninggalkan aku sendiri di meja makan dan langsung masuk ke kamarnya yang tidak jauh dari ruang makan.

“oh ya, aku juga harus kuliah! Matilah”gumamku dalam hati.

Aku mencoba menemui ratih dan batinku sekarang aku ingin pulang. Ternyata ratih sedang berada di halaman depan mengobrol bersama supirnya.

Aku mencoba mendekatinya.

“ehm, ibu ratih! Sepertinya aku mau pulang nih. Terima kasih banyak sudah bersedia menawarkan saya untuk tinggal di tempat selayak ini.” tukasku.

Dengan menunjukan ekspresi muka sedikit heran ia menjawab.

“kamu yakin bel? Nanti kalau ada apa apa kamu bisa balik lagi kesini kok. Pintu rumah ini selalu kebuka untuk kamu”jawabnya sambil memegang pundakku.

“iya bu makasih. Bella pamit sekarang aja yah”

“sebentar sebentar….”ucap ratih sambil berlari kecil masuk ke dalam rumah.

Aku menunggu beberapa menit di halaman depan dan keluarlah ratih bersama bagas yang segera menghampiriku.

“kamu pulang di anter sama bagas aja yah bel. Rumah kamu pasti jauh”ajak ratih kepadaku.

“yaudah ayo bel. Gue anterin deh terpaksa sekalian ke kampus juga”jawab bagas cuek.

“nggak usah deh gas. Ngerepotin”ucapku sedikit jengkel mendengar ucapan bagas.

Ratih menepuk punggung bagas. Kemudian bagas menarik tanganku untuk masuk ke dalam mobilnya. Mobilpun keluar dari garasi dan melaju.

Di dalam perjalanan pulang aku tidak banyak bicara dengan bagas hanya saat saat dia menanyakan arah jalan ke rumahku saja. Sampai di depan rumahku aku pun menawarkan bagas untuk mampir ke rumahku sebentar, tanda kutip “terpaksa”. Dan ternyata bagas hanya menggeleng.

Aku pun membuka pintu mobilnya dan segera bergegas keluar. Tapi tanganku ditarik oleh bagas.

“bel, nomor handphone lo berapa? Siapa tahu aja lo nyasar lagi kan gampang nyarinya.”ucapnya sambil mengeluarkan senyum meledek.

“haha terserah kamu aja deh gas”jawabku nggak niat sambil melihat mukanya yang menyebalkan itu.

“yaudah buru. Nomor lo berapa?

“081 836 XXX XX”jawabku

“yaudah sana turun, gue mau kuliah nih udah telat.”jawabnya kembali sekenanya.

“ya ya.. but, thanks yah gas buat semuanya” ucapku sambil meninggalkan dia dan masuk ke dalam rumah.

No comments:

Post a Comment