Monday, 11 October 2010

chapter 7

Kini aku sedang berada di sebuah angkutan umum. Aku melamun. Sekarang aku harus tinggal dimana. Rumah saudaraku? Tidak. Mereka semua tinggal di luar kota dan aku harus melanjutkan kuliahku disini. Rumah teman? Ah tidak juga. Aku tidak memiliki teman semenjak mereka ikut andil mendiskriminasiku karena issue yang tidak benar tentang ibuku. Malang memang, teman teman SMA ku yang sekarang satu perguruan tinggi denganku ikut menyebarkan berita kebohongan itu. Alhasil aku hampir di jauhi teman teman sekelasku. Di kampus pun aku lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan pada saat jam kosong.

Hampir satu jam aku berada di angkutan umum ini. Tanpa arah yang pasti. Aku kebingungan. Selang beberapa menit supir angkutan tersebut menoleh kearah belakang tepat dimana posisiku duduk.

“neng, abang stop sampai disini aja nariknya! Lagian udah sepi penumpang. Sebenernya neng mau turun dimana sih?” tanyanya sambil mengelap keringat dengan handuk kecil putihnya.

Tanpa berkata apa apa, aku menggengam tasku dan segera turun dari angkutan umum tersebut. Mengambil beberapa lembar uang ribuan dan aku berikan kepada supirnya.

Sekarang aku harus kemana. Aku melangkahkan kaki tanpa alur. Berjalan lurus melintasi rumah rumah dan banyak anak anak kecil yang sedang bermain riang.

Beberapa meter dari tempat aku turun tadi. Aku membaca plank bertuliskan “menerima kost-an bagi wanita dan pria” aku tertegun. Apa iya aku tinggal di sini saja. Aku mendelik melihat kondisi kost-an tersebut dari arah luar. Tidak terlalu besar bahkan sedikit kotor. Aku memberanikan membuka pagar kost-an tersebut dari arah berlainan ada seorang ibu yang sepertinya berjalan menghampiriku. Dalam hati, ah pasti ibu ini pemilik kostnya. Pikirku seraya tersenyum.

“nyari siapa neng? Atau barangkali minat ngekost disini”tanyanya sambil menguncir rambutnya yang panjang.

“iya bu. Saya mau ngekost disini. Masih ada yang kosong kan?”tanyaku ingin tahu.

“oh tenang aja neng. Masih ada 2 kamar cewek yang kosong. Mau lihat lihat dulu?” ajaknya.

Tanpa rasa sungkan aku pun mengikutinya menaiki anak tangga satu persatu. Kamar pria berada di lantai bawah sedangkan kamar untuk wanita berada di lantai 2. aku pun sudah sampai di depan pintu kamar kosong yang diceritakan tadi.

“yang ini aja kamarnya neng. Gimana? Sekalian bisa ngeliat pemandangan dari atas balkon kan”jawabnya sambil mengambil kunci dan mencoba membuka pintu kamar tersebut.

“boleh deh bu.” Ujarku tersenyum.

Aku pun mulai melihat keadaan kamar kost an ini. Ternyata tidak seburuk seperti yang aku fikirkan. Lumayan bersih dengan kasur yang berada diatas lantai. Terdapat meja rias juga.

“jadi berapa bu biaya perbulannya?” tanyaku penasaran yang mulai tertarik dengan kamar ini.

“oh nggak mahal kok neng. Cukup buat mahasiswi 350 ribu aja.”

Aku pun setuju dan ibu kost itu memberikan kunci kamarnya kepadaku dan bergegas turun kebawah.

Aku menutup pintu kamar dan segera membaringkan tubuhku di atas kasur. Aku pun terlelap.

No comments:

Post a Comment