Monday, 11 October 2010

chapter 6

Aku memulai memasuki rumah secara mengendap ngendap. Berharap rumah kosong, mungkin sekarang ayah tiriku sedang berada di toko buku miliknya. Dan krek, aku mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci oleh pemiliknya. Aku melihat keadaan sekeliling rumah, terbesit di fikiran kemana barang barang di rumah ini. Seperti orang yang ingin pindahan. Rumah ini jauh lebih terlihat luas tanpa barang barang. Aku melangkahkan kaki perlahan menuju kamarku. Tapi kenapa tidak dikunci yah pintu luar tadi? Ah peduli apa! Aku hanya ingin mengemas barang barangku dan segera pergi dari sini. Saat aku mulai memasukan barang barang apa saja yang ingin aku bawa tiba tiba ada suara batuk dari arah pintu masuk yang letaknya bersebelahan dengan kamarku.

“oh tidak, itu pasti ayah” ucapku gemetar

belum juga aku selesai merapihkan barang barangku, ayah sudah mulai melangkah masuk ke arena kamarku dan memandangku dengan ekspresi tercengang.

“mau kemana lagi bel, ayah udah nyari kamu semaleman! Kata tetangga sebelah kemaren dia sempat melihat kamu luntang lantung dijalan.”tanyanya sambil bertolak pinggang.

“perduli apa? Bella nggak tahan tinggal disini”ucapku kasar. Maaf ayah

“ya sekarang terserah kamu. Ayah juga udah nyerah. Rumah ini rencananya mau ayah jual dan uangnya ayah pakai untuk modal usaha di Surabaya. Kamu mau ikut ayah atau jalani hidup kamu sendiri? Soal biaya rumah sakit ibumu tetap ayah yang tanggung jawab tiap bulannya”

Aku tertegun terdiam. Apa yang harus kukatakan. Jujur aku tidak merasa nyaman berada di sampingnya. Tapi di lain sisi dia begitu perhatian terhadapku.

Aku memberanikan diri untuk menjawab tanpa berfikir panjang. Aku menelan ludah. Semoga ini keputusan yang benar. Gumamku dalam hati.

“bella pilih tinggal di luar saja. Terima kasih buat semua pengorbanan ayah. Maaf bella lancang.”jawabku sambil menunduk tidak luput air mataku mulai jatuh membasahi pipi. Dan segera ku hapus dengan telapak tanganku. Aku membangunkan diri dengan tangan memegang tas berisi barang bawaanku. Tapi tiba tiba ayah melontarkan kalimat terakhirnya.

“ini ayah ada sedikit uang untuk kamu, setidaknya untuk beberapa saat kamu bisa tinggal di kost-an”ujarnya sambil mengambil beberapa lembar uang di saku kemejanya.

Aku menunduk. Tangan kananku diraihnya dan diletakannya uang itu diatas telapak tangan kananku.

Aku tersenyum. “makasih yah! Bella pamit” dan aku pun keluar dari rumah itu.

No comments:

Post a Comment